Hari menjelang siang di pemakaman gang tujuh, Malang. Teriknya sinar matahari terhalang rimbunnya daun-daun pinus yang tumbuh subur di sepanjang pemakaman.
Ditengah-tengah pemakaman, tampak seorang anak muda sedang membersihkan sebuah makam tua. Mencabuti rumput-rumput liar dan membuang daun kering dan ranting yang berserakan di sekeliling makam itu.
Setelah makam itu bersih, ia menyiram air dalam botol serta menaburkan bunga tujuh rupa di sepanjang permukaan makam. Kemudian ia membakar dupa di sisi kepala makam.
Saat asap dupa mengepul, ia berdoa. Entah doa apa yang sedang dibacanya, mulutnya komat-komat dan matanya terpejam.
"Eyang Sapu, datanglah dalam mimpi cucumu ini, jelaskan siapa dirimu, supaya cucumu ini tidak merasa penasaran. Datanglah Eyang, dalam mimpiku." Batin pemuda itu. Kemudian pemuda itu bangkit lalu pergi meninggalkan makam tua itu.
Malam harinya, di bangku terminal Arjosari, duduk seorang pemuda, mengawasi hilir mudiknya penumpang dan kendaraan yang lalu lalang. Semakin malam orang-orang di terminal semakin sepi tinggal dia seorang diri. Pikirannya sedang kalut, ia tidak tahu harus pergi kemana untuk mendapatkan uang, sementara lusa adalah batas terakhir ia harus membayar uang ujian.
Kiriman dari Jakarta yang selama ini rutin diterima setiap bulan, dihentikan oleh orang tua angkatnya. Kenakalannya terdengar sampai telinga orang tua angkatnya, mereka menjadi marah lalu menghentikan pengiriman biaya kuliahnya. Sementara Emaknya tidak punya uang. Sekarang ia bingung, terminal bus ini menjadi tempat berlabuhnya.
Di bangku terminal, ia rebahkan tubuhnya, dilepaskan jaket lusuh yang dikenakannya lalu digunakan sebagai bantal. Dinginnya angin malam di udara terbuka tidak membuatnya beranjak dari tempatnya. Lelah dan bingung membuatnya tertidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi, Eyang Sapu mendatanginya dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Kamu ini memang seorang anak yang bandel, kenapa kamu tidur di terminal ini tidak tidur di rumahmu?"
"Saya sedang bingung Eyang, besok saya harus bayar uang ujian, tapi saya belum punya uang."
"Terus kamu masih ingin tahu siapa diri Eyang?" Tanya Eyang Sapu.
"Masih Eyang."
"Kenapa kamu ingin tahu?"
"Saya penasaran Eyang, ketika saya bertemu atau diganggu hantu lalu saya sebut nama Eyang, hantu-hantu itu ketakutan. Apakah Eyang ini rajanya hantu?"
"Huss, ngawur kamu, saya ini mahluk Tuhan yang diberi tugas untuk membantu menciptakan keseimbangan di wilayah timur ini."
"Apakah Eyang ini termasuk golongan Jin?"
"Eyang dulunya adalah manusia juga, setelah meninggal, Eyang mendapat tugas ini."
"Apakah setiap manusia yang meninggal nantinya akan mendapatkan tugas seperti Eyang?"
"Tidak semua manusia, hanya manusia tertentu yang semasa hidupnya mengerti 'sangkan paraning dumadi' yang akan di beri karunia seperti Eyang. Bisa membantu dalam hal tertentu terhadap siapa saja terutama yang ada garis keturunan dengannya."
"Apa arti 'sangkan paraning dumadi' ?"
"Bukan tugas Eyang untuk menjelaskan hal itu, kamu cari sendiri nanti dalam perjalanan hidupmu."
"Apakah saya masih ada garis keturunan dari Eyang?"
"Sepertinya begitu, coba kamu cari tahu sendiri asal usul keluargamu."
"Siapa nama Eyang?"
"Orang biasa memanggil Eyang dengan sebutan Kyai Sapujagat, nama asli Eyang kamu cari tahu sendiri."
"Eyang ini pelit, kenapa tidak dikasih tahu sekarang?"
"Belum tiba saatnya."
"Kalau masalah uang ujian, bagaimana?"
"Hmm, untuk kali ini saja Eyang bantu, kamu suka pasang nomer buntut ?"
"Suka Eyang."
"Sudah saya duga, kamu pasang nomer yang sesuai dengan biaya ujianmu."
"Baik Eyang."
"Sudah cukup, Eyang pergi dulu."
"Terima kasih Eyang."
Setelah Eyang Sapu pergi, Brodin, pemuda itu terbangun dari mimpinya. Bergegas ia merapikan diri lalu pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya, ia pasang nomer SDSB sesuai dengan pesan Eyang Sapu. Dan, tembus, sehingga Brodin dapat membayar uang ujiannya sekaligus dapat uang saku.
Brodin sangat bersyukur, masalahnya dapat diselesaikan dan rasa penasarannya tentang Eyang Sapu sudah terjawab. Namun muncul rasa ingin tahunya tentang 'sangkan paraning dumadi'.
Kemana harus mencarinya?
Baca Juga : Perempuan Bergaun Putih, Mapram Hantu


0 komentar:
Posting Komentar