Sedulur Papat Limo Pancer

Sedulur Papat Limo Pancer - Dalam kehidupan yang sedang kita jalani ini, sering kita mendengar orang khususnya orang tua yang mengatakan dalam bahasa Jawa tentang 'sedulur papat limo pancer', 'sedulur sing cedhak tanpo senggolan lan adoh tanpo langenan', 'kakang kawah adi ari-ari' dan istilah lainnya yang belum kita mengerti dan belum kita pahami.


Sedulur Papat Limo Pancer

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin modern, pergaulan yang semakin bebas dan perkembangan informasi yang semakin terbuka membuat kita khususnya generasi muda lebih menyukai budaya asing daripada budaya nenek moyang sendiri. Maka dengan tujuan memelihara budaya (nguri-uri) dan mengkaji budaya agar tetap lestari sehingga kita sebagai bangsa Indonesia tidak kehilangan jati diri, penulis mencoba menguraikan istilah "Sedulur Papat Limo Pancer" ini.

Pengertian Sedulur Papat Limo Pancer

Istilah ‘sedulur papat limo pancer' artinya saudara empat lima pusat yaitu marmati (samar mati), kawah (air ketuban), getih (darah), ari-ari dan dihubungkan melalui tali pusat berporos pada manusia (jabang bayi).

Istilah 'sedulur sing cedhak tanpo senggolan lan adoh tanpo langenan' adalah saudara kita yang dekat tanpa bersentuhan dan jauh sekali. Jika kita menganggap dan mempedulikannya maka saudara kita sangat dekat tanpa harus bersentuhan dan sebaliknya jika kita mengabaikannya maka saudara kita akan menjauh jauh sekali.

Istilah 'kakang kawah adi ari-ari' adalah kakak ‘kawah’ dan adik ari-ari yang merupakan komponen dari keempat saudara.

Ketiga istilah tersebut mengarah kepada satu hal yang sama yaitu saudara empat dan kelima pusat atau Sedulur Papat Limo Pancer.

Berikut ini adalah penjelasannya.

Kita kembali saat kita berada di dalam kandungan ibu, dan semua manusia pernah berada di dalam kandungan ibunya tidak memandang suku,bangsa dan agamanya. Karena sudah menjadi kodrat manusia, hanya Nabi Adam dan Hawa, manusia pertama, yang langsung diciptakan oleh Tuhan.

Saat di dalam kandungan, janin berada dalam satu kesatuan dengan ibu terhubung lewat tali pusar, sehingga apa yang dirasakan oleh ibu dirasakan pula oleh sang anak demikian sebaliknya sehingga muncul istilah ‘ngidam’ yang menunjukkan sang janin sudah memiliki keinginan. Dan keinginan bayi terpancar menjadi keinginan ibu atau bapaknya.

Kata orang tua, jika keinginan bayi tersebut tidak dipenuhi, nanti setelah bayi keluar dan tumbuh besar, bayi tersebut suka ‘ngiler’.

Terus apa dan siapa yang disebut ‘sedulur papat limo pancer’ atau saudara empat lima pusat itu?

Menurut Kitab Kidungan Purwajati karangan Sunan Bonang,  ‘sedulur papat limo pancer’ itu dijelaskan dalam bentuk lagu atau tembang Dhandanggula seperti berikut ini :

Ana kidung ing kadang Marmati Amung tuwuh ing kuwasanira

Nganakaken saciptane Kakang Kawah puniku Kang rumeksa ing awak mami
Anekakake sedya Ing kuwasanipun Adhi Ari-Ari

ingkang Memayungi laku kuwasanireki Angenakken pangarah Ponang Getih ing rahina wengi
Ngrerewangi ulah kang kuwasa

Andadekaken karsane Puser kuwasanipun Nguyu-uyu sabawa mami

Nuruti ing panedha Kuwasanireku Jangkep kadang ingsun
papat Kalimane wus dadi pancer sawiji Tunggal sawujud ingwang

Dalam  tembang di atas disebutkan bahwa  ”Sedulur Papat” itu adalah Marmati, Kawah, Ari-Ari dan Getih yang terhubung melalui tali Pusat (Puser), dan yang menjadi pancer atau pusatnya adalah bayi.

Penjelasannya seperti ini.

Marmati iku artinya  Samar Mati atau takut mati karena ketika ibu kita hamil, setiap hari berfikir dan merasa khawatir akan kematian bayinya. Dan perasaan takut mati (marmati) ada lebih dulu sebelum pecahnya ketuban, bayi dan ari-ari sehingga marmati disebut sebagai saudara tua.

Berikutnya adalah pecahnya ketuban atau kawah yang keluar lebih dulu sebelum bayi keluar sehingga kawah disebut sebagai saudara tua (kakang).

Kemudian disusul lahirnya bayi, setelah itu disusul keluarnya ari-ari sehingga ari-ari dianggap sebagai saudara muda dan disebut adi.

Dan keluarnya darah pada saat akhir proses melahirkan, disusul lepasnya tali pusar atau tali plasenta, biasanya  lepasnya tali pusar saat bayi berumur tujuh hari.

Karena sebelumnya semua unsur diatas itu menyatu dan jadi satu kesatuan dengan janin atau bayi maka disebut “SEDULUR PAPAT LIMA PANCER” .

Begitulah penjelasan secara fisik tentang ‘sedulur papat lima pancer’, marmati, kawah, ari-ari, darah dan tali pusat adalah kelngkapan seorang bayi. Jika salah satu saja tidak ada atau hilang maka sang bayi tidak akan dilahirkan dengan selamat atau mengalami cacat.

Pada saat di dalam kandungan, mereka (kawah, ari-ari, darah dan puser) bersama raga ada di dalam satu kesatuan diri yaitu janin.

Ketika janin keluar, secara fisik mereka berpisah dengan janin yang tumbuh berkembang menjadi manusia. Air kawah lenyap, ari-ari ditanam di dalam tanah, darah menguap dan puser terlepas. Namun secara non fisik (gaib) mereka tetap bersama.

Terus kemana mereka pergi?

Hawa Nafsu

Secara fisik keempat komponen tadi kembali ke dalam pelukan ibu pertiwi atau bumi atau tanah sedangkan secara gaib mereka berubah menjadi hawa nafsu di dalam diri manusia.

Hawa nafsu adalah sebuah perasaan atau kekuatan emosional yang besar dalam diri seorang manusia; berkaitan secara langsung dengan pemikiran atau fantasi seseorang. Hawa nafsu merupakan kekuatan psikologis yang kuat yang menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut. Dapat berupa hawa nafsu untuk pengetahuan, kekuasaan, dan lainnya; namun pada umumnya dihubungkan dengan hawa nafsu seksual. (Wikipedia)

Namun pengertian ini kemudian berkembang lagi dengan adanya pengaruh agama islam. Oleh Kanjeng Sunan Kalijaga kemudian ditambahkan pengertian baru yang bernafaskan Islam. Yaitu empat saudara itu adalah empat jenis nafsu manusia sedangkan yang kelima pancer adalah hati nurani atau 'alam rahsa / sirr'. Unsur empat nafsu adalah nafsu aluamah, sufiyah, amarah dan muthmainah.

Nafsu aluamah berkaitan dengan insting dasar manusia, yaitu keinginan untuk makan, minum, berpakaian, bersenggama, dll. Dikatakan bahwa nafsu aluamah ini terjadi karena pengaruh unsur tanah yang menjadi unsur pembentuk jasad manusia. Nafsu Aluamah ini mempunyai pintu di mulutdan tempatnya di perut.

Nafsu sufiyah berkaitan dengan keinginan duniawi untuk dipuji, untuk kaya, mendapat derajad dan pangkat, loba, tamak dll. Nafsu ini berpadanan dengan sifat air yang menjadi unsur pembentuk jasad.  Nafsu Sufiyah ini mempunyai pintu di mata dan tempatnya di sumsum.

Nafsu amarah berkaitan dengan keinginan untuk mempertahankan harga diri, rasa marah, emosi dll. Dikatakan nafsu ini mendapat pengaruh dari sifat panas / api yang menjadi pembentuk jasad mansia. Nafsu Amarah ini mempunyai pintu di telinga dan tempatnya di darah.

Nafsu muthmainah adalah nafsu yang mengajak kearah kebaikan. Dikatakan bahwa nafsu ini mendapat pengaruh sifat air yang juga menjadi pembentuk jasad manusia. Nafsu ini berpadanan dengan sifat udara yang menjadi unsur pembentuk jasad. Pintunya di hidung tempatnya di paru-paru.

Apakah kita bisa hidup tanpa Hawa Nafsu?

Tidak bisa. Tanpa hawa nafsu kita tak ubahnya seperti sebatang pohon yang diam membisu atau seperti sebongkah batu, tanpa gerak, tanpa emosi dan tanpa perubahan.

Dengan hawa nafsu manusia memiliki hasrat, keinginan dan ambisi untuk merubah dan memperbaiki kehidupannya.

Inilah yang membedakan manusia dengan Malaikat dan Setan. Jika Malaikat hanya melakukan kebaikan saja dan Setan hanya melakukan kejahatan atau perbuatan buruk saja maka manusia bisa menjadi salah satu darinya. Terkadang kita berbuat baik seperti Malaikat dan bisa menjadi jahat seperti Setan.

Jika kita menganggap hawa nafsu sebagai teman kita sendiri atau saudara kita sendiri bukannya lawan yang harus kita musuhi maka kita bisa mengenalnya lalu menuntun dan mengendalikannya menjadi hawa nafsu mutmainah.

Jika kita menganggapnya sebagai musuh maka setiap detik, setiap saat kita harus bersiap menghadapinya dan memeranginya sampai salah satu yang menang.

Karena hawa nafsu berada dalam diri kita, maka sebaiknya kita mengenalinya dengan baik sehingga kita dapat menuntunnya dan mengatasinya.

Mengapa Sedulur Papat Lima Pancer Harus Diperingati

Bagi orang Jawa semua 'sedulur' tadi harus diruwat, dipuasai, dirawat dan dihormati dengan cara diselamati dengan 'bancaan' atau tumpengan terutama pada hari kelahiran kita.

Hal ini bertujuan untuk memperingati hari kelahiran kita sebagai manusia, untuk mengingat kembali perjuangan ibu melahirkan kita dan mengingat bahwa kita lahir tidak sendiri melainkan bersama saudara-saudara kita.

Dengan mengingat semua itu akan  membawa kita pada kesadaran diri bahwa kita dilahirkan dari seorang ibu, dan kita lahir tidak membawa apa-apa selain saudara-saudara kita. Jadi mengapa kita menjadi takabur dan sombong setelah memiliki harta, tahta dan wanita?

Kesimpulan

Pengertian “Sedulur Papat Lima Pancer” sama dengan pengertian Manusia dan Hawa Nafsunya. Mari kita mengenali hawa nafsu, menuntun, mengendalikan dan membawanya ke jalan yang benar, jamgan sebaliknya, manusia yang dituntun dan dikuasai hawa nafsunya.

Artikel Lainnya :


Manusia dan Mahluk Gaib

 Manusia dan Mahluk Gaib

Seorang manusia mampu mendatangkan uang dan benda-benda lain dengan bantuan mahluk gaib seperti yang dilakukan oleh Taat Pribadi yang diyakini oleh pengikutnya, menunjukkan bahwa manusia dan jin atau mahluk gaib bisa menjalin hubungan lalu melakukan kerjasama layaknya kerjasama dengan manusia.

Seperti dalam kisah Aladin dan lampu wasiat, sang Jin akan menyediakan segala keperluan Aladin ketika Aladin memanggilnya dan menyuruhnya melaksanakan perintah dan permintaannya.

Aladin dan Jin
Aladin dan Jin Kartubi
Jin Kartubi merasa berhutang budi karena Aladin telah membebaskannya dari penjara gaib sehingga  ia mengabdikan dirinya kepada Aladin. Tapi jika tidak maka sang Jin akan berkata “wani piro?” seperti kita saksikan pada salah satu tayangan iklan Djarum 76.

Manusia,  Jin atau mahluk gaib adalah mahluk ciptaan Tuhan juga. Hubungan dengan mahluk gaib tak ubahnya seperti hubungan antara sesama mahluk, bisa bersifat ‘simbiosis mutualisme’ atau ‘simbiosis gak bermutu’.  Bedanya, Jin tidak terikat dengan hokum yang berlaku di alam manusia sehingga ketika mahluk gaib melakukan pelanggaran, ia tidak bisa dituntut secara hokum.

Saat diminta untuk mendtangkan uang oleh salah seorang Polisi yang menangkapnya, Taat Pribadi berkata “sekarang saya tidak bisa Pak, karena Jin Ifrit yang membantu saya terkena gas air mata.”

Ada dua kemungkinan dari jawaban tersebut, pertama : Taat pribadi memang melakukan praktek penipuan, terbukti dia tidak bisa menggandakan uang di hadapan polisi. Kedua : Jin yang membantunya memang sudah dilumpuhkan terlebih dahulu oleh polisi, tidak disangkal lagi jika pihak kepolisian juga memiliki seorang atau lebih penasehat spiritual untuk menghadapi kekuatan gaib pelaku kejahatan.

Anda masih bingung?

Mari kita perhatikan uraian dibawah ini, yang mungkin akan memberikan sedikit gambaran kepada kita bahwa manusia dan mahluk Tuhan lainnya bisa menjalin hubungan termasuk dengan mahluk gaib.

Baca Juga : Uang, Uang Gaib dan Praktek Penggandaan Uang

Manusia, Kelebihan dan Kekurangan

Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Fitrahnya, manusia diciptakan sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi baik pemimpin bagi dirinya sendiri, rumah tangga dan lingkungannya.

Sedangkan kekurangan yang menjadi kesempurnaan seorang manusia adalah manusia memiliki hawa nafsu. Jika manusia dapat mengendalikan hawa nafsu-nya dan menuntunnya ke jalan Tuhan maka ia akan menjadi manusia utama namun jika manusia yang dikendalikan atau diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri maka ia akan menjadi mahluk yang serendah-rendahnya.

Manusia bisa menjadi mahluk paling mulia namun sebaliknya manusia juga bisa menjadi mahluk paling hina, paling rendah, paling jahat dan predikat jelek lainnya.

Pernah kita mendengar apa yang dilakukan oleh manusia, seorang ayah yang tega menggauli anak kandungnya sendiri, seorang anak menggauli ibu kandungnya sendiri, seorang ayah membunuh anak kandungnya sendiri dan seorang ibu me-mutilasi anak kandungnya sendiri. 

Alangkah rendahnya perbuatan itu, bahkan hewan pun tidak dapat melakukannya.

Mahluk Gaib, Kelebihan dan kekurangannya

Mahluk Gaib adalah mahluk yang tidak terlihat, mahluk yang tidak memiliki badan jasmani seperti jin, peri, arwah-arwah dan lain-lain. Disebut ‘Mahluk’ karena mereka adalah ciptaan Tuhan, sama seperti manusia, yang membedakan adalah mereka tidak memiliki badan fisik atau jasmani sehingga mereka menjadi gaib atau tidak terlihat oleh pandangan manusia.

Mahluk Gaib juga memiliki hawa nafsu, perasaan dan keinginan.  Mereka tinggal di dunia ini bersama-sama manusia, bersebelahan namun mereka tak terlihat. Orang-orang di Kalimantan menyebutnya ‘alam sebelah’.

Kelebihan Mahluk Gaib

  • Mahluk gaib bisa melihat manusia sementara manusia tidak bisa melihatnya kecuali orang-orang yang diberi kemampuan khusus.
  • Mahluk Gaib bisa berubah wujud atau membuat wujud seperti manusia.
  • Mahluk Gaib bisa menciptakan, mendatangkan benda atau materi secara gaib.

Kekurangan Mahluk Gaib

Mahluk Gaib terutama arwah-arwah penasaran, merindukan memiliki badan jasmani sehingga dapat mengecap rasa seperti saat mereka hidup di dunia. Mereka hanya menyerap sari-sari makanan tanpa dapat merasakan dengan lidah dan indera perasa nya.

Sehingga sering kita dengar fenomena kesurupan dalam kehidupan kita,  karena mahluk gaib tersebut ingin menggunakan badan jasmani manusia untuk keperluannya.

Hubungan Manusia dan Mahluk Gaib

Manusia dan Mahluk Gaib memiliki hubungan yang erat mengingat manusia juga memiliki sisi kegaiban dalam dirinya.

Bagi manusia yang memiliki mata batin atau mata ketiga, mereka bisa melihat, merasakan dan berkomunikasi lalu menjalin hubungan dengan mahluk gaib. Sementara manusia biasa, hanya bisa berhubungan dengan mahluk gaib melalui mimpi.

Jenis-jenis hubungan manusia dan mahluk gaib adalah sebagai berikut.

Pemujaan

Manusia memuja mahluk-mahluk gaib yang memiliki kesaktian dan kemampuan membantu manusia dengan cara memberi sesaji dan lain-lain dengan harapan mahluk gaib tersebut mau membantu keperluannya.

Dalam hal ini, mahluk Gaib mempunyai kedudukan lebih tinggi dari manusia.

Persahabatan

Manusia dan Mahluk Gaib mempunyai kemampuan dan kedudukan yang sama. Mereka menjalin hubungan atas dasar suka sama suka, saling menghormati dan menghargai.

Persekutuan

Manusia dan Mahluk gaib bersekutu.

Manusia dan mahluk gaib menjadi sekutu dalam suatu kepentingan, manusia memerlukan mahluk gaib untuk membantu keperluan hidupnya seperti harta kekayaan, kesaktian  dan lain-lain, sebagai imbalannya manusia menyerahkan tumbal berupa jiwa, baik jiwanya sendiri maupun jiwa keluarganya atau teman dan kerabatnya.

Persekutuan kedua, Mahluk Gaib membutuhkan badan jasmani manusia untuk keperluan pribadinya, seperti menyampaikan pesan kepada sanak keluarganya, menggunakan tubuh  manusia untuk melakukan amal ibadah dengan membantu menyembuhkan orang sakit, terkena guna-guna dan lain sebagainya. Sebagai imbalannya mahluk gaib tersebut membantu manusia yang badan jasmaninya digunakan. Disebut ‘Perewangan’.

Manusia dan Mahluk Gaib Saling Memanfaatkan

Manusia dan mahluk gaib yang menjalin hubungan pada umumnya disertai pamrih dan kepentingannya masing-masing. Dalam hal ini yang berlaku adalah hukum rimba, siapa yang kuat akan memanfaatkan yang lemah.

Besar kecilnya, kuat lemahnya mahluk tergantung tingkat keimanannya kepada Allah sang Maha Gaib dan Maha Kuat . Sumber dari segala sumber kekuatan di alam semesta.

Peringatan

Hubungan manusia dan mahluk gaib apapun bentuknya memiliki dua sisi yang berlawanan, sisi mana yang lebih kuat akan menggelincirkan manusia ke dalam dosa besar yaitu ‘Menyekutukan Tuhan’.

Kesimpulan

Karena manusia dan mahluk gaib adalah sama-sama mahluk ciptaan Tuhan, maka mari kita ciptakan hubungan yang harmonis, saling menghargai, saling menghormati dan saling membantu dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan.

Hanya kepada Allah tempat kita meminta.

Wasalam.

Falsafah di balik Aksara Jawa



Falsafah di balik Aksara Jawa - Seminggu sudah berlalu sejak Brodin menjalani laku mutih untuk memahami rahasia yang terkandung dalam aksaraJawa namun ia masih belum puas dengan pemahaman yang ditangkapnya. 

Brodin mencoba menggali lebih dalam tentang makna dari simbol-simbol yang terkandung dalam cerita asal-muasal aksara Jawa. Menurut pendapatnya, pengertian yang dicernanya ketika menjalani laku itu masih sebagian kecil saja, ada rahasia lebih besar yang belum terpecahkan menyangkut hidup dan kehidupannya. Rasa penasaran yang begitu besar untuk memahami rahasia aksara Jawa mendera hatinya.  Membuatnya susah tidur.
Falsafah di balik Aksara Jawa

Kyai Sapujagat, Sang Pelindung

Hari menjelang siang di pemakaman gang tujuh, Malang. Teriknya sinar matahari terhalang rimbunnya daun-daun pinus yang tumbuh subur di sepanjang pemakaman.

Ditengah-tengah pemakaman, tampak seorang anak muda sedang membersihkan sebuah makam tua. Mencabuti rumput-rumput liar dan membuang daun kering dan ranting yang berserakan di sekeliling makam itu.

Setelah makam itu bersih,  ia menyiram air dalam botol serta menaburkan bunga tujuh rupa di sepanjang permukaan makam. Kemudian ia membakar dupa di sisi kepala makam.

Dilema Putra Mas Gondo

Malam Jum'at Kliwon adalah malam yang dianggap keramat bagi masyarakat Jawa, khususnya yang berada di pedesaan. Malam itu diyakini adalah malam dimana mahluk-mahluk gaib yang dikeramatkan keluar dari sarangnya.
Anak Gondoruwo
Malam itu, di bawah sebuah pohon sawo besar tampak seorang pemuda duduk menyendiri, menjauh dari hiruk pikuknya kesibukan para santri yang sedang mengaji atau melakukan aktifitas keagamaan lainnya. Disandarkan tubuhnya di batang pohon. Pandangannya menerawang jauh, menelusuri kegelapan malam, menunggu datangnya seseorang.

Setelah beberapa saat lamanya, tiba-tiba angin berhembus kencang lalu muncul sesosok mahluk besar, hitam berbulu, beberapa langkah di hadapan Gufron sang pemuda itu.
Baca Juga : Misteri Genderuwo dan Kesukaannya

"Asalamu alaikum.." Tegur Gufron, mahluk itu mengangguk dan tersenyum menampilkan deretan gigi-gigi yang putih dan runcing, sangat kontras dengan penampilannya yang hitam mengerikan.

"Ada perlu apa Ngger kok memanggil bapak?" Tanya mahluk itu.

"Saya mau ikut bapak saja, saya sudah tidak tahan lagi menerima hinaan, ejekan dan sindiran orang-orang." Jawab Gufron sambil menitikkan air mata.

Mahluk itu diam sambil menundukkan kepalanya. Sambil menarik nafas panjang dia berkata, "kalau kamu ikut aku, bagaimana dengan ibumu?"

"Biarkan saja ibu bersama suaminya, saya mau ikut bapak saja." Jawab Gufron.

Mahluk itu semakin tertunduk diam. Beberapa lama kemudian, "sebaiknya kamu minta ijin kepada Pak Kyai terlebih dulu, jika Pak Kyai mengijinkan, Bapak akan membawamu. Karena beliau yang merawatmu sejak kamu bayi."

"Ya Pak, tapi Bapak jangan ingkar ya?"

"Asalkan Pak Kyai mengijinkan, Bapak tidak akan ingkar." Kata mahluk itu lalu seperti kedatangannya, kepergiannya diiringi angin berhembus. Wuss .. Maka mahluk itu hilang dari pandangan Gufron.

Gufron merenung sejenak kemudian bangkit berdiri, dihirupnya udara malam lalu dihembuskan seolah membuang beban hidupnya. Dilangkahkan kakinya dengan perlahan, seolah enggan meninggalkan tempat itu. Diterobosnya gelapnya malam tanpa rasa takut, karena ketakutannya adalah menghadapi manusia-manusia yang menganggapnya berbeda, ganjil dan aneh.

Saat sinar rembulan menyinari tubuhnya, terlihatlah bahwa tubuhnya penuh bulu, bahkan mukanya juga penuh dengan bulu-bulu hitam. Seburuk-buruknya penampilannya, ia adalah manusia juga meskipun berdarah campuran.

Di bawah sebuah pohon, tampak seseorang memperhatikan gerak langkah Gufron.

"Kasian anak ini, dia harus menanggung hasil perbuatan orang tuanya." Batin orang itu.

Orang itu, ternyata adalah Kyai sang pemangku pondok yang mengasuh Gufron sejak bayi. Kedua orang tua Gufron dulunya adalah santri di pondok asuhannya.

Sambil mengawasi Gufron, ingatan sang Kyai menerawang ke masa sebelum Gufron lahir.

Surti dan Tejo adalah pasangan pengantin baru yang tinggal di desa dekat pondok pesantren ini. Layaknya pengantin baru kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi bunga-bunga asmara.

Tejo adalah seorang sopir bis antar kota, antar propinsi. Saat bekerja kadang seminggu bahkan satu bulan baru pulang ke rumahnya. Belum habis masa bulan madunya, Tejo harus pergi bekerja. Dengan berat hati Tejo meninggalkan Surti di rumah sendirian. Sementara Surti harus menerima dan melepaskan Tejo untuk mencari nafkah keluarga.

Dua jam berselang sejak kebarangkatannya, Tejo kembali pulang dengan alasan kendaraan yang harus dibawanya masih rusak sehingga dia boleh pulang.

Berpisah dua jam bagi pengantin baru merupakan waktu yang lama sehingga mereka menumpahkan kerinduan itu dengan memadu asmara. Surti merasakan adanya perbedaan, Tejo sekarang lebih perkasa, namun Surti tidak merasa curiga. Hampir semalaman mereka memadu kasih.

Keesokan harinya Tejo pergi, dua jam kemudian kembali pulang lalu mereka memadu asmara lagi. Begitu setiap hari sampai hampir satu bulan lamanya.

Hingga pada suatu hari ketika Tejo pulang, Surti sudah mempersiapkan diri dengan berdandan cantik dan mengenakan pakaian yang menggoda hasrat laki-laki. Namun Tejo bersikap dingin tidak seperti biasanya. Surti heran tapi dia tidak mau bertanya.

Keesokan harinya Surti muntah-muntah, hamil. Tejo heran dan curiga dengan siapa Surti berhubungan, satu bulan lamanya dia tidak pulang ke rumah.

"Kamu selingkuh dengan siapa?" Tanya Tejo sambil gemetar menahan amarah.

"Mas Tejo kok ngomong begitu? Setiap hari Mas Tejo pulang ke rumah dan setiap kali kita berhubungan badan." Jawab Surti.

"Enak saja, baru kemarin sore saya pulang ke rumah ini."

"Lalu yang setiap hari pulang itu siapa? Wajahnya sama, bentuk tubuhnya sama, cara bicaranya sama, ya sampean yang pulang."

"Tidak, demi Allah, demi Rasulullah baru kemarin saya pulang." Sergah Tejo.

Mereka berdua diam, di dalam hati mereka muncul kecurigaan adanya kehadiran orang ketiga. Untuk menghindari pertengkaran lebih dahsyat mereka menghadap Kyai di pondok pesantren.

Sang Kyai tanggap akan apa yang menimpa kedua santrinya itu. Untuk menyelesaikan permasalahan mereka, diambil jalan tengah, Surti tidak bersalah karena dia tidak tahu. Namun Surti sudah mengandung, maka jika anaknya lahir  akan diasuh Kyai di pondok pesantren sementara kedua suami istri itu dipersilahkan memilih jalan yang terbaik.
   
Sekarang Gufron, anak Surti dengan mahluk yang menyerupai Tejo sudah tumbuh menjadi seorang pemuda. Permasalahannya karena bentuk fisiknya berbeda dengan pemuda lain maka dia dikucilkan dalam pergaulan dan sering menerima hinaan dari teman-temannya atau orang yang bertemu dengannya. Teman-temannya memanggilnya Gufron Angon atau Gufron Anak Gondoruwo.

"Asalamu alaikum."

Sang Kyai tergagap kaget ketika dihadapannya telah berdiri Gufron.

"Wa alaikum salam."

"Kebetulan saya bertemu romo Kyai di sini, ada yang akan saya utarakan." Kata Gufron.

"Ehm, apa yang mau kamu utarakan."

"Saya mau ikut bapak saja, di sini saya tidak tahan jika setiap hari dihina dan diperlakukan seperti saya ini bukan manusia."

Sang Kyai terdiam, "sekarang kamu sudah besar, jika memang itu pilihanmu, maka akan saya ijinkan. Pesan saya jangan lupa sholat, di alam bapakmu masih banyak yang belum beragama dengan benar. Kamu harus menjadi teladan yang baik."

"Baik Kyai, terima kasih atas kebaikan Kyai selama ini, saya mohon pamit."

Maka sejak saat itu Gufron menghilang dari kehidupan pondok pesantren. Teman-temannya menyesal telah memperlakukan Gufron dengan kasar.

Semoga Gufron mendapatkan kehidupan yang lebih baik di alam barunya. Dan semoga tidak ada lagi Gufron-Gufron yang lain.

Baca Juga : Jual Beli Genderuwo

Kesurupan, sebuah fenomena tata krama



Kesurupan - Siang hari di sebuah lembaga pendidikan di tengah kota Balikpapan. Di salah satu ruangan  di lantai 3 gedung lembaga pendidikan, tampak sepasang siswa baru mendapatkan tugas untuk membersihkan ruangan.  Seorang, yang cowok sedang menyapu lantai sementara yang cewek sedang membersihkan meja dan kursi yang ada di ruangan itu.  Mereka berdua mengerjakan tugas itu dengan riang gembira, sambil bercanda dan bergurau.

Tiba-tiba sang cowok terjatuh lalu berkelojotan seperti seseorang yang terjangkit ayan. Matanya terbalik dan mulutnya bergumam dengan suara tidak karuan. 

Melihat temannya seperti itu, siswa cewek terkejut dan ketakutan kemudian menjerit histeris minta pertolongan. Para staff dan karyawan yang berada di lantai 1 dan lantai 2 berhamburan berlari untuk memberi pertolongan ketika mendengar teriakan itu.  Mereka mengerumuni dan memegangi siswa yang kesurupan tersebut, beberapa orang berusaha menyembuhkan namun tidak berhasil mengusir roh atau jin yang merasuki siswa itu.

Akhirnya mereka berusaha meminta bantuan orang pintar, tiga orang pintar yang biasa menangani kasus seperti ini tidak berhasil menyembuhkan siswa itu.  Mereka menyerah.

Saat mereka kebingungan menghadapi situasi ini, datang Pak Amad seorang petugas kebersihan kampung yang kebetulan melewati tempat ini. Orang dengan penampilan yang sederhana, mengenakan sarung dan baju kedodoran serta peci haji di kepalanya.

Pak Amad berusaha menolong, dipegangnya ubun-ubun anak yang kesurupan itu lalu dibacakan ayat kursi beberapa kali.  Anak itu sembuh tapi jin atau roh yangmerasuki berpindah kepada siswa cewek. Begitu seterusnya, bergantian kedua siswa tersebut kesurupan.

Pak Amad menjadi bingung.

Saat giliran siswa cowok kesurupan, Pak Amad memegang kepalanya lalu membisikkan sesuatu di telinganya.

“Saya tinggal di belakang tempat ini, tolong jangan ganggu anak-anak ini.” Bisik Pak Amad.

Tiba-tiba siswa itu berkata dengan logat suara yang berbeda.

“Saya lagi enak-enak duduk, mereka tanpa permisi menyapu saya, tepat di muka saya. Dasar manusia tidak tahu aturan.”

“Maafkan mereka, kalau kamu bisa dilihat mereka mungkin mereka akan minta ijin dan tidak akan berbuat seperti itu.” Kata Pak Amad.

“Enak saja minta maaf, saya tidak terima diperlakukan seperti ini. Saya lebih dulu dan sudah lama tinggal di tempat ini, mereka datang tanpa permisi menempati tempat ini lalu berbuat seenaknya seolah kami tidak ada.”

“Sekali lagi saya atas nama mereka minta maaf, mereka tidak tahu keberadaan kalian disini. Sekarang pergilah, tinggalkan tubuh anak ini.”

“Tidak mau.”

“Kalau kamu tidak mau pergi, kamu akan saya pindahkan dari tempat ini.” Ancam Pak Amad sambil membaca ayat-ayat suci.

Akhirnya jin atau roh itu menyerah lalu pergi meninggalkan tubuh siswa tersebut, masalah di lembaga pendidikan itu untuk sementara selesai.

Dari kejadian tersebut dapat diambil pelajaran bahwa mahluk gaib pun ingin diketahui keberadaannya, ingin dihargai layaknya mahluk ciptaan Tuhan lainnya, sementara pendidikan tata krama di kalangan anak-anak mulai luntur di jaman ini. Jangankan terhadap  mahluk gaib, terhadap manusia yang jelas kelihatan saja mereka kurang menghargai.

“Saya ini orang tua Mas, tapi saat mereka lewat di depan saya, jangankan ngomong ‘permisi’, tersenyum saja tidak.” Tutur Pak Yanto penjaga malam lembaga pendidikan itu.

Alangkah menyedihkan jika rasa hormat terhadap sesama mahluk  khususnya terhadap orang yang lebih tua mulai diabaikan oleh anak-anak baik kecil, remaja atau dewasa.

Semoga kejadian ‘Kesurupan’ ini memberi pelajaran kepada kita semua sehingga kita sebagai orang tua mulai menanamkan tata krama dan budi pekerti kepada anak-anak kita.

Semoga.

Perempuan Bergaun Putih, Arwah yang Terlupakan

Perempuan Bergaun Putih

Arwah yang Terlupakan 


Malam ini adalah kesempatan terakhir bagi Brodin untuk menyelesaikan tugas kuliahnya, besok harus segera dikumpulkan.  Permasalahannya adalah ia tidak memiliki komputer meskipun kuliah di jurusan Manajemen Informatika yang mengharuskan mahasiswanya setiap hari bergelut dengan komputer.

Pada era tahun 1980-an, komputer yang digunakan di kampusnya masih Pentium 1 dengan monitor hijau putih dan media penyimpanan menggunakan diskette 3.5 atau 5 inch. Meskipun begitu, harga sebuah komputer kala itu belum terjangkau bagi Brodin, sehingga ia harus memanfaatkan laboratorium komputer untuk menyelesaikan tugasnya.

Sialnya, pada hari itu, jadwal praktikum tidak ada yang kosong sama sekali, mulai jam 8 pagi sampai jam 9 malam sudah terisi. Maklum, sudah mendekati akhir semester. Biasanya masih ada satu atau dua jam dimana laboratorium kosong sehingga ia dapat menggunakan salah satu komputernya. Hari ini, terpaksa ia harus menunggu sampai praktikum selesai.

Tepat pukul 9 malam praktikum berakhir, setelah minta ijin kepada petugas laboratorium, Brodin diperkenankan menggunakan salah satu komputer di laboratorium yang berada di lantai dua gedung utama. Laboratorium komputer itu memiliki 12 unit komputer yang diatur dalam tiga kelompok, masing-masing empat unit komputer. Brodin memilih komputer paling belakang, komputer yang sering ia gunakan saat praktikum.

Setelah mempersiapkan peraltannya, mulailah Brodin mengerjakan tugasnya. Karena tenggat waktunya sudah mendesak, maka dengan konsentrasi penuh, ia berusaha menyelesaikannya.

Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat, hari sudah tengah malam. Namun belum selesai juga tugasnya, Brodin menjadi gelisah. Teman-temannya sudah pulang semua, tinggal petugas keamanan yang meringkuk di posnya sambil mendengarkan siaran radio.

Permasalahan baru muncul yang harus segera ia selesaikan.

Bagaimana caranya pulang? Pada jam begini, semua angkutan sudah tidak ada yang melewati kampus ini lagi. Terpaksa malam ini, ia harus menginap di kampus ini. Tapi dimana? Semua ruangan sudah dikunci, hanya laboratorium ini yang tersisa.

Brodin mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari tempat untuk merebahkan badannya. Tapi ruangan laboratorium ini sudah penuh dengan komputer, printer dan meja yang menyisakan sedikit jalan.

"Sudahlah di jalan ini tidak apa-apa, yang penting dapat meluruskan badan. Besok setelah mengumpulkan tugas, saya mau tidur seharian dirumah." Batin Brodin sambil meneruskan mengerjakan tugasnya.

Ketika tenggelam dalam konsentrasinya, tiba-tiba printer yang ada di sebelahnya berbunyi.

"Kreek .. Kreek .. Krieek .."

Brodin menoleh sebentar lalu kembali mengerjakan tugasnya, dalam benaknya, saat itu hari masih siang sehingga dianggapnya wajar jika orang lain yang menyalakan printer.

Selang beberapa menit kemudian, komputer di sebelah kirinya menyala, tampak sebuah tulisan di layar monitor.

"Lembur Mas?"
"Ya, besok harus dikumpulkan." Jawab Brodin acuh.

Merasa diacuhkan, sang penanya menuliskan lagi sebuah pesan di monitor.
"Makanya kalau dikasih tugas, buruan dikerjakan! Sudah mepet baru kebingungan."

Brodin melirik ke arah monitor itu, hatinya sedikit kesal tapi ia acuhkan saja. Tugasnya sebentar lagi selesai, hanya kurang beberapa tahap saja sehingga ia lebih mencurahkan konsentrasinya.

Tiba-tiba printer dan komputer di sebelah kanan dan kirinya menyala bersamaan. Suara bisingnya mengganggu  Brodin, untungnya tugasnya sudah selesai, segera ia menyimpannya ke dalam diskette yang dibawanya. Kemudian ia menoleh ke sebelah kiri dan kanannya, alangkah terkejutnya ketika tidak ada seorang pun di ruangan itu.

"Siapa yang menyalakan komputer dan printer tadi?" Batinnya.

Bulu kuduknya merinding, perasaannya menjadi tegang dan gelisah. Segera ia mematikan komputer lalu bergegas keluar ruangan laboratorium.

Belum sempat ia berdiri dari tempat duduknya, lampu ruangan tiba-tiba padam, aroma bunga kenanga menyeruak memenuhi ruangan. Brodin menjadi panik, pandangan matanya berusaha meyesuaikan dengan kegelapan dan aroma yang sangat dikenalnya ketika akan bertemu mahluk gaib jenis tertentu membuat bulu kuduknya meremang.

"Aduh, ketemu hantu lagi." Batinnya.

Dalam gelap ia meraba-raba, mencoba mencari jalan menuju pintu ruangan. Darahnya terkesiap ketika tangannya memegang suatu benda berkulit tapi dinginnya seperti es. Ia merasa penasaran, dirabanya lagi, benda itu mencengkeram lengannya, ternyata sebuah tangan. Disurukkan mukanya ke depan, mau melihat siapakah yang punya tangan itu.

Jantungnya terasa copot, serasa putus nyalinya ketika di hadapannya telah berdiri seorang perempuan bergaun putih. Wajahnya pucat pasi, berambut panjang, matanya sayu, sebagian rambutnya menutupi wajahnya. Kedua tangannya memegang lengan Brodin dengan erat, seolah menahannya agar tidak lari.

gambar perempuan bergaun putih
Baca Juga :

Brodin diam terpaku, nafasnya menggemuruh, aliran darahnya menjadi cepat dan jantungnya berdegup dengan kencang. Belum pernah ia mengalami kejadian seperti ini, bersentuhan langsung dengan hantu.

Sesaat, hilang kendali dirinya. Rasa takut  begitu menguasai dirinya, tulang belulangnya seolah tercabut dari sendinya sehingga tubuhnya terkulai tak berdaya.

Dalam ketidak-berdayaannya, bayangan hantu-hantu di pemakaman gang Tujuh, melintas kembali satu per satu dalam ingatannya, arwah perempuan di bawah pohon, pocong, 'ndas gelundung' dan yang terakhir muncul adalah wajah Eyang Sapu. Bayangan-bayangan itu semakin menambah rasa takutnya, namum ketika wajah Eyang Sapu muncul, timbul harapan dihatinya. Selama masa pengembaraannya di pemakaman gang tujuh, Eyang Sapu lah yang melindungi dirinya.

Brodin berkata dalam hati, "Mbah, cucumu dalam bahaya."

Entah darimana datangnya, Brodin merasa mendapatkan kekuatan yang mengalir melalui peredaran darahnya. Rasa takutnya perlahan hilang.

Sementara wanita itu terkejut seolah ada kekuatan lain melawannya sehingga dengan mudah Brodin melepaskan tangannya, lalu ia berlari menuju pintu, membukanya dan menutupnya kembali. Saat pintu tertutup, lampu ruangan itu menyala kembali, dan sayup-sayup terdengar suara wanita menangis tersedu-sedu.

Setelah mengunci pintu, Brodin dengan nafas terengah-engah dan jantung berdebar-debar  meninggalkan ruangan itu.

Brodin bingung mau pergi kemana, harapannya hanya menemui Pak Pardi, petugas keamanan kampus.

Sampai di pos satpam, Pak Pardi tidak ada sementara ruangan pos berantakan, seperti telah terjadi sesuatu.

"Kemana Pak Pardi? Kok, pos satpam dibiarkan kosong." Batin Brodin sambil merapikan barang-barang yang berserakan di lantai.

Setelah ruangan rapi kembali, Brodin duduk di kursi satpam, menunggu Pak Pardi kembali. Waktu sudah menunjukkan jam setengah dua malam namun Pak Pardi belum juga kembali. Brodin menjadi gelisah, rasa takutnya belum hilang. Bayangan perempuan bergaun putih itu masih lekat dalam ingatannya. Timbul rasa khawatir apabila hantu itu akan menyusulnya. Tujuannya pergi ke pos satpam ini untuk mencari teman agar rasa takutnya sedikit berkurang, namun orang yang dicarinya malah menghilang.

Dari persawahan di depan pos satpam, suara jangkrik dan katak bersaut-sautan, sayup-sayup terdengar suara anjing melolong membuat suasana menjadi lebih mencekam. Kampus ini jauh dari pemukiman penduduk sehingga jika terjadi sesuatu sulit mencari pertolongan.

Brodin duduk membatu di kursi satpam, matanya nyalang mengawasi lingkungan sekitarnya. Hatinya terkesiap ketika dari kejauhan nampak titik hitam dan putih yang berjalan ke arahnya. Semakin lama semakin mendekat, dan berhenti di pos satpam.

"Selamat malam.." Kata sosok berbaju putih dengan logat asing. Di belakangnya, berdiri sosok hitam, tinggi besar. Hanya terlihat matanya yang putih memancarkan sinar menakutkan.

"Selamat malam Romo .." Jawab Brodin ketika melihat dengan jelas sosok yang menegurnya.

"Malam-malam begini belum tidur?"
"Belum Romo."
"Tidak takut sendirian di sini? Kata orang, di sini banyak hantunya."
"Sebetulnya takut, tapi mau pulang sudah tidak ada angkutan lagi. Romo sendiri mau kemana?"

Suara anjing melolong memecah kesunyian malam.

"Boleh saya beritahu sebuah rahasia?"
Brodin mengangguk.

"Saya berdua ini sebetulnya adalah hantu gentayangan yang mau menghantui orang seperti kamu. Ha.. Ha.. Ha.." Bisik sosok itu sambil menunjukkan wujud aslinya.

Tubuh tanpa daging, hanya tulang belulang dengan tengkorak kepala yang hampir lepas dari sendinya. Jerangkong. Sementara sosok hitam dibelakangnya melepaskan kepalanya lalu ditenteng mendekati Brodin.

Brodin melompat mundur saking kagetnya. Badannya seperti terpaku di tanah, tidak bisa bergerak. Wajahnya pucat, matanya melotot dan jantungnya berdegup dengan kencang.

Kedua hantu itu seolah menemukan permainan baru, mereka tertawa bergelak menyaksikan korbannya ketakutan.

Di saat seperti ini, sekali lagi, bayangan wajah Eyang Sapu melintas dalam benak Brodin. Disebutnya nama itu, “Eyang Sapu, tolong cucumu.”

Kedua hantu itu terkejut seolah mendengar nama yang ditakutinya, mereka menghentikan tawanya,  melangkah mundur lalu menjauhi pintu satpam dan menjauhi Brodin.

Sementara itu, seolah mendapatkan kekuatan baru, Brodin berlari meninggalkan pos satpam sambil berteriak minta tolong. Di belakangnya, kedua hantu itu tertawa getir, tawa yang bermakna ganda, takut dan sedih.

Brodin berlari mengambil jalan memutar mengelilingi kampusnya lalu berhenti di kantin kemudian duduk mengatur nafasnya. Matanya menoleh kesana kemari, takut apabila kedua hantu itu mengejarnya.

"Apes betul aku hari ini."

Setelah merasa kedua hantu itu tidak mengejarnya lagi, ia merasa sedikit tenang. Tanpa ia sadari, tangannya merogoh kantong celananya lalu mengeluarkan sesuatu. Sebuah kunci, kunci ruang senat. Kebetulan letaknya di sebelah kantin dan kebetulan pula ia yang memegang kunci ruangan itu.

Segera Brodin masuk ruang senat lalu menyalakan lampu ruangan. Ruangan itu berantakan, Brodin membersihkannya lalu mengatur tempat untuk meluruskan badannya. Beralaskan spanduk-spanduk yang sudah tidak terpakai, ia merebahkan badannya mencoba mengendurkan syaraf dan ketegangannya.

Namun saat ia merbahkan badannya, ia merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan dan mengawasi gerak-geriknya sehingga ia bangun lalu berkeliling mencari tahu. Tidak ada apa pun dan siapa pun di ruangan itu, hanya meja dan kursi yang diam membisu.

Brodin mematikan lampu lalu merebahkan badannya lagi. Perasaan itu bertambah kuat, ia yakin ada seseorang yang sedang mengawasinya. Brodin bangun lalu menyalakan lampu kembali, tidak ada siapa-siapa.

Dimatikan lagi lampu ruangan itu sambil berkata, "saya ini orang susah, mbok jangan diganggu." Lalu ia merebahkan badannya di lantai. Perasaanya menjadi sedikit lebih tenang, karena ketegangan dan lelah berlari, sebentar saja ia sudah terlelap dalam tidurnya.

Dalam tidurnya ia bermimpi, bertemu dengan seorang wanita bergaun putih. Wanita itu bercerita. Ternyata dia adalah anak pemilik rumah yang sekarang menjadi kampusnya, keluarga misionari dari Belanda.

Saat meletusnya peristiwa 1965, keluarganya menjadi korban keganasan oknum-oknum yang mengatasnamakan ideologi. Saat itu usianya masih lima tahun. Dia menyaksikan kedua orangtuanya dibunuh dan jasadnya dikubur dalam satu lubang. Sedangkan dia sendiri bersembunyi  lalu terjebak di dalam ruangan yang sekarang menjadi laboratorium komputer. Karena ketakutan dan kengerian yang teramat sangat serta tidak ada orang yang menolongnya, akhirnya dia meninggal di ruangan itu.

Arwahnya penasaran sehingga mengganggu setiap penghuni rumahnya. Dia berharap ada orang yang mau memperhatikan atau bisa menyempurnakan arwahnya. Dia sudah lelah bergentayangan.

Brodin terharu mendengar cerita wanita itu, ia berjanji akan menceritakannya kepada pengelolah kampus tentang keberadaannya.

"Dok .. Dok .. Dok .." Suara pintu diketuk. Brodin terbangun lalu membuka pintu, ternyata teman-temannya sudah menunggunya di depan pintu mengajak minum kopi di kantin.

Saat mereka sedang asik ngobrol, muncul Pak Pardi dengan baju seragam satpam berlepotan lumpur.
“Din, saya mau bicara berdua denganmu.” Kata Pak Pardi sambil melangkah meninggalkan kantin. Brodin beranjak lalu mengikuti langkah Pak Pardi.
“Ada apa Pak?”

“Semalam kamu ada di laboratorium komputer?”

“Iya Pak, kenapa? Apakah ada barang yang hilang?”

“Tidak ada, tapi semalam saya diteror hantu, sampai-sampai saya jatuh ke sawah.”

"Semalam saya mencari Pak Pardi ke pos satpam tapi tidak ada, kemudian saya duduk disana selanjutnya saya didatangi jerangkong dan manusia tanpa kepala."

"Hantu itu yang menakuti saya."  Tukas Pak Pardi.

Brodin lalu menceritakan kejadian yang dialaminya semalam, tidak lupa menyampaikan pesan dari wanita bergaun putih yang ditemui dalam mimpinya.

"Coba Pak Pardi berbicara dengan pengelolah kampus ini, bikin selamatan dan panggil orang 'pintar', agar arwah-arwah di lingkungan ini tidak mengganggu kita lagi."

“Baik, nanti saya sampaikan kepada bapak Dekan.” Kata Pak Pardi.

“Semoga arwah-arwah di lingkungan kampus ini menjadi tenang.” Batin Brodin.

Laskar Gondo Rukem

"Tik .. Tik .. Tik ..".

Jari-jari Brodin menari-nari di atas keyboard komputer, bak memainkan sebuah simfoni, kadang cepat, kadang lambat dan sesekali berhenti kemudian lanjut lagi mengikuti perintah yang mengalir dari kepalanya.

Waktu seolah berlalu dengan cepat, tak terasa sudah saatnya makan siang namun ia belum juga menghentikan pekerjaannya. Lagi 'mood', kalau sudah begini ia tidak mau di ganggu sampai pekerjaannya selesai.

Cincin Gondo Rukem

Cincin Gondo Rukem - Malam itu, Brodin terlelap dalam tidurnya.

Sudah tiga hari tiga malam ia tinggal dirumah Sigit, sekarang hari keempat. Belum ada tanda-tanda bahwa tuan rumah akan kembali. Rasa lelah dan rasa lega setelah berdamai dengan sang penunggu rumah membuatnya tenang dalam tidurnya. Tidak seperti malam-malam sebelumnya di rumah itu, dimana ia harus berjaga dan bersiaga menghadapi keisengan sang penunggu rumah. Malam ini telah  hilang rasa khawatir, hilang rasa takutnya. Tinggal rasa lapar yang mendera lambungnya.

Saat matahari sudah tinggi, Brodin bangun. Setelah minum air dan makan pisang yang tinggal beberapa biji lagi, ia duduk di beranda rumah. Bekal rokoknya masih cukup untuk beberapa hari lagi, ia merasa tenang. Jika tidak, mungkin ia tidak akan bertahan tinggal sendiri di tempat yang sepi, tanpa makanan dan hiburan.
cincin gondo rukem
Cincin Gondo Rukem
Sambil menyalakan rokok batin dan pikirannya kembali memberontak untuk segera meninggalkan rumah ini.

"Sudah hampir empat hari lamanya Mas Sigit pergi tapi kok belum juga kembali? Padahal libur kerja hanya tinggal dua hari saja, bagaimana ini?" Batin Brodin gamang.

Apa sebaiknya saya kembali ke Jakarta lebih dulu?

Tapi bagaimana dengan rasa solidaritas dan komitmen terhadap janji yang sudah saya buat sebelumnya? Meskipun hanya di dalam hati. Meskipun hanya pada diriku sendiri. Apakah harus saya ingkari?

Setelah menimbang beberapa lama akhirnya ia dapat menetapkan keputusan yang akan diambil.

"Baiklah saya akan bertahan sampai Mas Sigit datang dan kembali ke Jakarta bersama-sama." Tekad Brodin. 

Akhirnya pemberontakan di dalam hati dan fikirannya dapat di padamkan.

Tiba-tiba Brodin terbangun dari tempat duduknya, baru teringat jika semalam Mbah Gondo memberinya sebuah cincin batu. Segera  ia mencari di kamarnya, ditempat tidur, dibawah bantal, di seluruh sudut kamarnya, namun tidak di temukannya. Kemudian ia mencari di tempat pertemuannya dengan Mbah Gondo, tidak ketemu juga. Lelah mencari ia kembali ke beranda rumah lalu menghempaskan badannya di kursi. Terasa ada sesuatu yang mengganjal pantatnya, ketika dilihat ternyata cincin itu ada di situ.

Ditimang-timangnya cincin itu lalu di amatinya dengan teliti. Sebuah cincin dengan mban perak serta batu berwarna hitam legam. Perpaduan warna yang mencolok, hitam dan putih.

"Lumayan dapat hadiah kenang-kenangan dari Mbah Gondo." Batin Brodin.
"Terus apa kegunaannya? Apakah dengan memakai cincin ini saya bisa tahan terhadap senjata tajam, hantaman benda tumpul atau bahkan peluru? Atau saya bisa menghilang? Kalau memang betul, cocok buat bekal hidup di Jakarta." Pikir Brodin.

"Tapi kalau tidak ada manfaatnya, buat sekedar hiasan di jari tangan saja juga bagus."

Saat sibuk dengan angan-angan dan pikirannya tiba-tiba Brodin dikejutkan oleh suara seorang wanita.

"Asalamu alaikum."

"Wa alaikum salam." Jawab Brodin tergopoh-gopoh.

"Saya disuruh kakek untuk mengantarkan makanan ini buat mas." Kata Gadis itu.

Brodin melongo, sosok gadis cantik, mengenakan daster sederhana, memakai caping petani, rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai telah berdiri di hadapannya.

"Mas .. Mas .."

"Eh .. Kakeknya siapa namanya Dik?"

"Eyang Gondo Rukem."

Brodin terperanjat, "kalau ini cucunya Mbah Gondo, berarti dia juga seorang mahluk halus dari golongan Gondowati."

"Tapi kok cantik begini, sedangkan kakeknya sangat menyeramkan."

"Ehm .. Ehm .. Bagaimana Mas? Mau menerima kiriman kakek?" Tanya Gadis itu.

Sejenak Brodin merasa ragu tapi cacing-cacing di dalam perutnya seolah mengajukan protes sehingga terdengar suara dari perutnya.

Brodin malu, sambil mengelus-elus perutnya ia menjawab, "mau Dik."

Diterimanya rantang makanan dari tangan gadis itu, "terima kasih, bagaimana saya mengembalikan rantang ini?"

"Besok siang saya ambil, saya mohon pamit." Jawab Gadis itu sambil berlalu pergi.

Setelah gadis itu pergi, Brodin membawa makanan itu ke dalam rumah. Dibukanya satu per satu tutup rantang itu. Isinya nasi dan sayur gudeg ditambah tempe, tahu bacem serta telor gudeg.

"Makanan kesukaan saya ini, tapi apa betul-betul bisa dimakan? Jangan-jangan nanti berubah?" Batin Brodin gamang. Lalu dilangkahinya makanan itu 3 kali, baru dicicipinya. Benar-benar makanan manusia. Setelah merasa yakin, dihabiskan tiga rantang makanan itu sekaligus.

"Alhamdulillah .." Batin Brodin.

Setelah makan, matanya terasa mengantuk maka bergegas ia menutup pintu lalu tidur.

Kira-kira jam tiga sore, ia mendengar pintu rumah diketuk. Brodin bangun lalu bergegas membuka pintu. Ternyata Sigit dan keluarganya yang datang ditambah dua orang yang belum dikenalnya. Seorang kakek dan seorang gadis.

Alangkah kagetnya ketika memandang gadis itu, sangat mirip dengan gadis yang mengantarkan makanan tadi siang. Namun dipendamnya saja perasaan itu.

"Aduh, mohon maaf sebesar-besarnya, kemarin tidak membangunkan mas lebih dulu, soalnya waktunya sangat mendesak sehingga kami harus segera berangkat." Kata Ibu Sigit.

"Tidak apa-apa Bu." Jawab Brodin sambil menyalami mereka satu per satu.

"Ini kakek Sigit, terus ini adiknya Sigit yang lagi kuliah di Yogyakarta." Kata Bapaknya Sigit mengenalkan.

Melihat tuan rumah baru datang, terlihat lelah dan sibuk maka Brodin mohon pamit kembali ke kamarnya.

Waktu makan malam, pintu kamarnya diketuk Sigit. "Ayo makan dulu." Berdua mereka makan, melihat makanan sebenarnya Brodin tanpa ragu-ragu lagi makan dengan lahapnya. Sigit hanya melongo melihatnya.

"Selama kami tinggal, kamu makan apa setiap harinya?"

"Makan pisang saja Mas. Dalam waktu tiga hari saya sudah menghabiskan hampir satu tandan pisang. Sekarang tinggal berkicaunya saja." Jawab Brodin sambil mencoba bersiul meniru suara burung.

Sigit tersenyum getir mendengar jawaban Brodin.

"Kuat kamu? Di Jakarta, sehari sudah makan 3 kali saja masih nambah makan mie rebus."

"Jelek-jelek begini, saya masih bisa menimbang mana yang baik dan mana yang kurang baik. Jika saya minta makanan sama tetangga atau saya keluar makan di warung, akan menimbulkan dampak yang kurang baik bagi keluarga Mas Sigit. Karena kita tinggal di desa dimana penduduknya memegang teguh fatwa bahwa menerima tamu adalah suatu kehormatan."

“Saya rela kelaparan demi menghormati Mas Sigit dan keluarga di sini.” Lanjut Brodin.
Sigit diam, kata-kata temannya ini menyentuh perasaannya.

"Sory Din, bukan maksud kami mau menelantarkan kamu di sini, keperluan kami sangat penting dan sangat mendadak sehingga tidak sempat ngurusin kamu."

"Tidak apa-apa Mas, saya dulu memang anak terlantar, hehehe."

Sigit tersenyum kecut.

“Wis ora apa-apa mas. Sebentar saya mau melanjutkan makan dulu.”

Tidak lama kemudian, bapak, ibu dan kakeknya Sigit keluar lalu ikut bergabung dalam pembicaraan mereka. Setelah basa-basi sebentar, mereka terlibat pembicaraan yang penuh rasa kekeluargaan.

Karena lelah dalam perjalanan jauh, Sigit, Bapak dan Ibuya pamit istirahat lebih dulu. Tinggal Brodin dan Kakeknya Sigit.

Bapaknya Sigit bernama Bargowo, seorang guru SMP. Orangnya ramah dan pandai bercerita, berbeda jauh dengan Sigit yang pendiam. Sedangkan Ibu Sigit adalah sosok ibu rumah tangga yang baik, garis-garis kecantikan masih membayang diwajahnya meskipun umurnya sudah setengah abad lebih.

Sedangkan Kakeknya Sigit, bernama Pramono, ayah dari bargowo, setelah naik haji beliau menjadi seorang yang dituakan di desa ini. Penduduk desa memanggilnya Kyai Pramono. Sosoknya sederhana, badannya kurus terbalut baju koko dengan peci hitam di kepalanya. Wajahnya tirus, tatapan matanya tajam berwibawa.

Tinggal mereka berdua yang ada di meja makan. Sepertinya Kyai Pramono sengaja ingin mengutarakan sesuatu kepada Brodin.

Kyai Pramono diam sejenak lalu dipandangnya Brodin dengan seksama.

"Rupanya angger sudah berkenalan dengan penunggu rumah ini." Kata Kyai Pramono.
"Betul Eyang, tiga malam berturut-turut saya tidak tidur." Jawab Brodin, lalu ia menceritakan kejadian yang pernah di alaminya dengan sang penunggu rumah ini.

"Hehehe." Kyai Pramono tertawa terkekeh mendengar cerita Brodin.

"Mohon maaf Eyang, apakah boleh kita berteman dengan mahluk-mahluk gaib seperti Mbah Gondo itu?"

"Pada dasarnya kita ini sama-sama mahluk ciptaan Tuhan, namun berbeda alam. Yang tidak boleh jika kita lebih memuja mereka dan akhirnya men-Tuhankan mereka."

Sebagai manusia kita harus berhati-hati jika berhubungan dengan mereka, anggap mereka sebagai sesama mahluk Tuhan yang butuh perhatian, butuh kasih sayang dan rasa hormat.

Brodin manggut-manggut.

"Saya diberi hadiah sebuah cincin oleh Mbah Gondo, apa kegunaannya Eyang?" Tanya Brodin sambil menunjukkan cincin itu.

"Hmm .. Rupanya kalian sudah akrab." Gumam Kyai Pramono sambil mengamati cincin itu.

"Pakai saja, nanti kamu akan tahu dengan sendirinya, apa kegunaannya. Baiklah, saya mau istirahat dulu, lain kali kalau berjodoh kita akan bertemu lagi."

"Sebentar Eyang, siang tadi saya mendapat kiriman makanan, yang mengantar mirip sekali dengan adiknya Mas Sigit."

"Oh begitu, temanmu yang tinggal di pohon Rukem  itu bisa merubah wujud sesuai keinginannya. Bisa jadi siapa saja yang pernah dilihatnya."

"Baik, terima kasih Eyang."

Brodin kembali ke kamarnya.

Keesokan harinya, Brodin diajak Sigit berjalan-jalan mengunjungi Curug Lawe. Disebut dengan Curug Lawe karena jatuhnya air terjun ini mengesankan untaian benang “lawe” yang sangat halus dan berwarna putih. Kata Lawe itu sendiri dalam bahasa Jawa berarti benang-benang halus.

Perjalanan menuju air terjun itu lumayan jauh, mereka berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang sedikit becek karena semalam hujan.

Empat hari terkungkung di rumah, membuat Brodin sangat menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan menuju air terjun. Hijaunya dedaunan membuat matanya segar, suara kicau burung dan aroma tanah tersiram air hujan membuatnya merasa menyatu dengan alam.

Satu jam mereka berjalan, sampailah mereka di Curug Lawe. Mereka duduk di atas bongkahan batu sambil menikmati pemandangan indah dihadapannya. Deru suara air jatuh, percikan air dan suara angin mendesis terdengar harmonis. Sesuai dengan namanya percikan air terjun ini seperti benang-benang halus yang di pintal oleh tangan-tangan halus. Sungguh indah.

Puas menikmati indahnya pemandangan Curug Lawe mereka memutuskan untuk pulang.

Dalam perjalanan pulang Brodin sengaja melambatkan langkah kakinya sehingga tertinggal beberapa langkah di belakang Sigit, ia meraba-raba kantong celananya mencari cincinnya. Ia takut cincin itu akan hilang jika ditinggalkan di rumah. Setelah ketemu coba dikenakannya di jari manisnya, lalu berlari mengejar Sigit. Setelah dekat ditepuknya punggung Sigit.

“Buk..”

Sigit berhenti, matanya memandang berkeliling, mencari-cari siapa yang menepuk punggungnya. Ia tidak melihat orang lain di sekitarnya. Ia menduga ada mahluk gaib yang mengganggunya sehingga ia mempercepat langkahnya.

Brodin mengejarnya lalu menepuk kembali bahu Sigit sambil berkata, “Mas tunggu..”

Sigit semakin kebingungan, “tidak ada orang tapi sepertinya terdengar suara. Seperti suara Brodin. Apa Brodin lagi kumat isengnya terus menggangguku. Tapi dimana anak itu? ”

Sigit Berusaha mencari, tetapi tidak menemukan Brodin di belakangnya.

Brodin terkejut melihatnya, “Masak saya sedekat ini ia tidak melihatnya? Apakah karena saya mengenakan cincin ini sehingga ia tidak bisa melihatku? Saya coba sekali lagi.”

Ditepuknya lagi bahu Sigit. Sigit menoleh lalu berlari. Brodin mengejarnya dengan hati berbunga-bunga sambil melepaskan cincin di jarinya.

“Sekarang saya tahu manfaat cincin ini.” Batinnya girang.

Pulang jalan-jalan, mereka membersihkan diri lalu duduk di beranda rumah. Segelas kopi jahe sudah tersaji, minuman yang sudah lama dirindukannya. Hari ini, Brodin merasakan hidupnya kembali normal.

Sambil menyalakan rokoknya, Brodin duduk di salah satu kursi, Sigit duduk di seberangnya.
“Eyang Pramono mana Mas?”

“Eyang dijemput pagi-pagi sekali menuju Wonosobo untuk ceramah agama.”

Brodin diam sejenak.

“Kenapa tadi, waktu pulang, Mas berlari seperti dikejar setan?”

“Ada yang menepuk-nepuk punggung dan bahuku tapi tidak ada orangnya, lebih baik saya lari saja.”

Brodin ragu-ragu, mau berterus-terang atau merahasiakannya. “Ah, lebih baik ia tidak tahu daripada nanti aku diceramahin macam-macam.”

Lalu Brodin mengalihkan pembicaraan.

"Mas, adiknya sudah punya pacar atau belum?"

"Buat apa kamu tanya?"

"Saya suka melihatnya, cantik dan lemah lembut."

"Adik saya orangnya baik, tapi kalau pacaran sama kamu saya tidak setuju."

“Memangnya kenapa? Apakah saya kurang gagah?”

“Kamu memang gagah tapi kamu suka mabuk-mabukan dan tidak bisa menyimpan uang. Mau kamu kasih makan apa adikku nanti?

"Hehehe saya akan berubah Mas."

"Tapi gak enak Din, seandainya kamu jadi iparku bagaimana hubungan kita? Pasti kaku, jika kalian bertengkar saya pasti akan ikut campur."

Brodin diam, kata-kata Sigit benar.

"Tapi kalau sama-sama suka, boleh mas?"

"Terserah adikku saja."

"Baiklah kalau begitu. Tapi kenalin dulu dong." Pinta Brodin.

Sigit masuk ke dalam rumah lalu kembali lagi bersama adiknya.

"Ini teman satu kontrakan saya di Jakarta, mau kenalan sama kamu."

Brodin segera mengulurkan tangannya mengajak berjabatan tangan.

"Brodin, Broto Diningrat."

"Anggraeni."

Sejenak tangan mereka berpaut, getar-getar rasa mengalir ke pembuluh darah mereka, tatapan mata beradu membuat jantung berdetak lebih cepat. Bak Gayung bersambut, Brodin merasakan respon itu. Brodin seolah enggan melepaskan tangan halus itu, tapi Sigit segera menepiskan kedua tangan itu.

"Sudah jangan lama-lama." Kata Sigit sambil memberi isyarat kepada adiknya untuk segera masuk kembali.

Brodin merengut, "telek."

Brodin sekarang merasa betah tinggal dirumah Sigit, makanan tersedia dan ada harapan mendapatkan seorang kekasih meskipun masih belum jelas.

"Ini baru refreshing." Batinnya.

Sayang sekali waktu liburannya sudah habis dan Brodin harus kembali ke Jakarta, meninggalkan rumah Sigit, meninggalkan desa Parakan, meninggalkan kenangannya dengan Mbah Gondo serta meninggalkan Anggraeni. Gadis yang menarik hatinya.

Kembali menjalankan rutinitas kerja dan kembali merasakan pengapnya udara Jakarta.