Home » » Aku dan Seekor Lalat, Satu Renungan Tentang Kebersihan Diri

Aku dan Seekor Lalat, Satu Renungan Tentang Kebersihan Diri

Aku dan Seekor Lalat, Satu Renungan Tentang Kebersihan – Pada umumnya, orang sudah menjadikan sebagai patokan tentang kebersihan suatu tempat berkaitan dengan kehadiran Lalat. Semakin banyak Lalat yang datang maka sudah dipastikan jika tempat itu kotor demikian pula sebaliknya. Lalu apa hubungannya aku dan seekor Lalat? Itulah yang menjadi bahan renungan kali ini.

Aku dan Seekor Lalat, Satu Renungan Tentang Kebersihan Diri
Aku dan Seekor Lalat, Satu Renungan Tentang Kebersihan Diri

Suatu hari,karena memang belum mandi atau memang rumah saya yang masih kotor, banyak lalat yang datang dan hinggap di sekeliling meja dimana saya bekerja dirumah. Hinggap di cangkir kopi, piring berisi singkong rebus bahkan hinggap di atas laptop saya.

Saya merasa heran, karena biasanya tidak begitu. Sehingga saya segera membersihkan rumah dan lingkungan di sekitarnya. Setelah itu jumlah Lalat yang datang agak berkurang. Dan,keesokan harinya saya membersihkan rumah lagi, lalat pun semakin berkurang. Hingga saya membersihkan rumah setiap hari, dan sosok hewan ini sudah tidak pernah kelihatan lagi.

Aku dan Seekor Lalat, Satu Renungan Tentang Kebersihan Diri
Aku dan Seekor Lalat, Satu Renungan Tentang Kebersihan Diri

Namun, suatu ketika, saat saya sudah menyadari pentingnya kebersihan, beberapa ekor lalat datang kembali. Padahal, saya sudah mandi dengan bersih termasuk keramas dan mengenakan pakaian yang bersih, dan rumah pun sudah bersih.

Mengapa?

Pertanyaan itu yang memenuhi benak saya. Seketika, saya memeriksa kebersihan rumah dan pakaian yang saya kenakan. Bersih semua. Akhirnya, saya mengabaikannya saja daripada pusing memikirkan hewan yang merepotkan ini.

Tapi, yang mengherankan lagi, saat esok hari dimana saya sudah mandi dan membersihkan rumah, sang Lalat itu datang lagi. Namun, bukan makanan atau tempatnya yang ia hinggapi melainkan tubuh saya. Dan, saya kelabakan mengusirnya dengan berbagai cara. 

Akhirnya saya menyerah ketika Lalat-lalat  itu tidak kunjung pergi dan membiarkan saja hewan kotor itu berbuat semaunya.

Bahkan, saat saya duduk diam sambil memejamkan mata, seekor lalat hinggap di tubuh saya. Tapi saya abaikan. Mulai dari mata pindah ke telinga, lalu pindah lagi ke hidung. Dan, yang paling menjengkelkan saat hewan ini hinggap di bibir saya yang seksi. Tapi saya tetap berusaha mengabaikan dan membiarkannya.

Teringat dalam hati, satu ayat dalam Al Quran,
“Tidak sehelai daun yang gugur ke muka bumi ini tanpa kehendakNya.”
Maka, saya pun melakukan mawas diri. Karena Tuhan menciptakan segala apa yang ada di alam semesta ini, tidak ada yang sia-sia, termasuk Lalat. Dan, saya pun berfikir, mengapa Tuhan mengirimkan Lalat-lalat ini.

Dan, akhirnya saya menyadari meskipun tubuh bersih, namun jiwa saya masih kotor.

Mata saya sering jelalatan ketika melihat wanita-wanita cantik dan seksi, telinga saya masih sering mendengar suara-suara yang kotor, hidung dan anggota tubuh lainnya pun demikian, terutama mulut dengan bibir yang seksi ini.

Meskipun tidak terucap, namun dari gemulai jemari saya menuliskan kata-kata, masih terlalu sering menyakiti dan menyinggung perasaan orang lain. 

Akhirnya, saya berusaha membersihkan diri terutama membersihkan jiwa dengan mengurangi segala sesuatu yang cenderung kotor. Tentunya, dengan ijin Tuhan.

Itulah pengalaman pribadi tentang seekor Lalat, hewan yang menjadi alat ukur kebersihan.

Mengutip ayat suci Al Quran,
“Kebersihan adalah sebagian dari iman.”
Maka, mari kita jaga kebersihan, baik lingkungan kita, tubuh kita dan yang terpenting adalah jiwa kita.

Karena tempat-tempat wisata yang bersih akan banyak dikunjungi orang, warung-warung makan, café dan restoran pun demikian. Maka, jiwa yang bersih akan dikunjungi kebaikan.

Kunjungi juga : www.ayodolenrek.com

Semoga bermanfaat..

Artikel Lainnya :





1 komentar: