Home » » Pernikahan Anggraeni

Pernikahan Anggraeni

Hari berganti hari, tibalah waktunya pernikahan Brodin dengan Anggraeni.

Meskipun diadakan dengan acara yang sederhana, namun kabar pernikahan Anggraeni menyebar tertiup angin menyusup ke telinga orang-orang yang mengenalnya. Kerabat, teman dan orang-orang yang pernah menaruh hati atau bahkan pernah menjalin hubungan dengannya. Sebagian dari mereka datang walaupun tidak mendapatkan undangan resmi.

Sementara, Brodin pada pernikahan ini, tidak mengundang satu pun kerabat, teman dan keluarganya. Mengingat ini adalah pernikahan keduanya. Entah mengapa, di sudut sanubarinya yang paling dalam, dia merasa malu.


Untungnya, pesta pernikahan diadakan di rumah Anggraeni di dusun Tegalroso, Parakan,  agak jauh dari kota dan jauh dari orang-orang yang mengenalnya.

Hari itu, desa Tegalroso yang biasanya sepi, kini berubah menjadi ramai. Tamu-tamu berdatangan dari berbagai penjuru untuk menghadiri hajatan ini, mulai dari tetangga, warga desa tetangga hingga kerabat dari kota bahkan dari luar kota. Hilir mudik tamu yang datang dan suara gending-gending Jawa mengalun merdu seolah mengetuk pintu-pintu rumah warga, memanggil mereka untuk datang ke tempat hajatan.

Akad nikah dilaksanakan setelah prosesi 'temu manten' dilanjutkan dangan resepsi pernikahan, malam harinya digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.

Tamu undangan datang dan pergi bergantian. Sebelum prosesi akad nikah dilaksanakan, tiba-tiba datang sekelompok orang yang langsung duduk di kursi tamu. Tampang mereka seram dan terlihat kasar, mengenakan ikat kepala khas jawa timur, berbaju hitam dan sabuk putih seperti tambang melingkari badan mereka. Warok Ponorogo.

Orang-orang yang berada di acara itu terkejut dengan kehadiran mereka. Brodin memandang dari kejauhan, tidak ada salah satu dari mereka yang dikenalnya, melihat penampilannya ia teringat salah satu gurunya, Mbah Sunari yang dulunya adalah salah seorang Warok. Namun ada hubungan apa gurunya dengan orang-orang  ini? Dan ia tidak merasa mengundang mereka.

Sigit dan teman-temannya bergegas datang lalu mengajak mereka menempati meja tamu lain yang sudah disediakan namun mereka menolak.

"Kami jauh-jauh dari kota Ponorogo datang kemari untuk melihat saudara saya menikah, meskipun saudara saya belum mengenal kami semua." Kata Broto pemimpin rombongan ini.

Brodin tanggap jika mereka berada dipihaknya, maka dihampirnya sambil berkata,  "Terima kasih saudaraku semua, silahkan duduk dulu biar acara ini segera dimulai. Setelah itu kita lanjutkan lagi obrolannya."

Rombongan itu bergeser lalu duduk dengan tenang, Penghulu segera melanjutkan acara akad nikah. Proses akad nikah pun berjalan dengan lancar. Selesai acara akad nikah, Brodin segera menemui saudara-saudara yang belum dikenalnya.

"Sebenarnya kakang berlima ini siapa? Dan apa hubungan kita?" Tanya Brodin.

"Saya Broto, ini kakangmu Bayu, Joyo, Legowo dan Bimo. Kami berlima adalah saudara seperguruanmu, guru kami adalah Warok Suro Digjoyo atau kamu kenal dengan nama Mbah Sunari." Kata Broto.

Brodin terkejut, selama ini ia tidak pernah tahu siapa nama julukan gurunya dan tidak bertanya siapa saudara seperguruannya. Yang dikenalnya adalah Mbah Sunari seorang tukang pijat, guru dan kakeknya di Jombang.

"Entah mengapa guru mengumpulkan kami dan memberi tugas untuk mendampingimu di saat pernikahanmu ini. Alamat tempat ini pun juga beliau yang memberi tahu." Lanjut Broto.

Brodin tertegun, kekagumannya kepada gurunya yang sederhana semakin bertambah. Setelah mengetahui dengan pasti siapa mereka, Brodin menyambut kelima saudaranya dengan senang hati lalu mengenalkan kepada istri dan keluarga barunya. Namun apa tujuan gurunya mengirim mereka? Itu yang masih misteri.

Setelah kehadiran saudara-saudara Brodin, datang lagi sekelompok orang disusul kelompok-kelompok lain, mereka duduk menyebar. Masing-masing kelompok terdiri lima sampai sepuluh orang.

Namun mereka tidak membuat keributan sampai prosesi pernikahan selesai dilaksanakan. Masing-masing kelompok hanya memasukkan amplop dengan cap merah pada kotak tamu lalu mereka pergi.

Acara pernikahan pun berlangsung dengan aman tanpa ada gangguan, kekhawatiran Brodin sebelumnya tidak terjadi. Pada jam 10 malam, kedua mempelai memasuki kamar pengantin.

Di dalam kamar pengantin, Anggraeni segera berganti pakaian untuk menyambut malam yang selama ini ditunggunya. Hatinya berbunga-bunga, mimpinya menjadi kenyataan,  sekarang ia sudah resmi menjadi istri Brodin, lelaki yang sangat dicintainya. Rasa penat dan lelah seharian berdiri menyambut tamu, seolah hilang.

Dikenakannya baju daster tipis, sehingga terlihat jelas lekuk tubuhnya yang padat berisi, lalu ia berbaring menutupi tubuhnya dengan selimut.

Brodin masuk ke dalam kamar, melepas baju pengantin lalu berbaring di sebelah istrinya.

"Sudah tidur Diajeng?" Bisik Brodin.

"Belum Kangmas." Jawab Anggraeni sambil menyingkapkan selimutnya. Brodin menelan ludah melihat keindahan tubuh istrinya.

Mereka bertatapan sejenak, "saya serahkan jiwa ragaku untukmu Kangmas." Bisik Anggraeni.

Brodin terbelalak, darah lelakinya bergolak melihat keindahan dihadapannya. Lalu dengan mesra dicium kening istrinya, turun ke hidung dan saat bibir mereka bertemu, bibir mereka berpagut seolah tak mau lepas, nafas mereka memburu. Direngkuhnya tubuh Anggraeni dalam pelukannya.

Maka mereka tenggelam dalam lautan asmara, mereguk nikmatnya surga dunia, memuaskan hasrat dan kerinduan yang selama ini terpendam.

Bahkan sang dewa Kamajaya dan dewi Ratih, iri melihat kebahagiaan mereka.

Saat hasrat mereka telah usai, Anggraeni menggelayut manja dalam pelukan Brodin. Tanpa sengaja Anggraeni melihat bekas luka baru ditubuh suaminya.

"Kangmas habis berkelahi lagi?" Tanya Anggraeni dengan nada tinggi. Brodin mengangguk.

"Dengan siapa lagi?"

"Renggo, pemuda yang  kamu tolak cintanya. Dia marah kepadaku, karena dia menganggap aku sudah merebut cintanya."

Anggraeni diam, sekarang ia dapat memahami lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya ini. Suaminya berkelahi dengan taruhan nyawa dilakukan untuk mempertahankan dan melindungi dirinya. Maka rasa sayang dan cintanya semakin mendalam.

Malam purnama ini Brodin resmi memiliki dua orang istri yang sah, Fatimah dan Anggraeni. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, namun mereka mau berbagi cinta.

Entah sampai kapan?

Dan, masih ada lagi seorang wanita yang menunggu Brodin untuk menjadi istri ketiganya.

Baca sebelumnya : Madu Lagi? 

0 komentar:

Posting Komentar