Home » » Diabetes Melitus, Hantu Yang Menakutkan

Diabetes Melitus, Hantu Yang Menakutkan



Diabetes Melitus – Mendengar nama itu, bulu kuduk saya meremang, jantung saya berdegup lebih kencang seolah melihat hantu yang menakutkan. Mengingat betapa mengerikan dampak yang ditimbulkan oleh penyakit yang menjadi momok menakutkan itu, salah satunya adalah disfungsi seksual.

Bagi semua laki-laki pada umumnya, disfungsi seksual bagaikan hantu yang mengerikan. Bayangkan, jika sebagai lelaki, kita tidak mampu memenuhi kebutuhan seksual pasangan kita! “Apa kata dunia?” Kata si Naga Bonar.

Maka, untuk menghindari penyakit ini, saya sajikan informasi tentang penyakit Diabetes Melitus ini. Dengan mengetahui dan mengenal tanda-tanda, dampak dan cara menghindarinya, maka kita dapat menghindarinya atau minimal menjaga kondisi tubuh kita agar tetap memiliki kadar gula darah yang stabil.


Berikut adalah penjelasannya.

Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus adalah suatu gangguan kesehatan yang disebabkan oleh naiknya kadar gula dalam darah seseorang menjadi tinggi karena gula dalam darah tidak dapat digunakan oleh tubuh. Diabetes Mellitus / DM dikenal juga dengan istilah penyakit gula darah atau kencing manis yang mempunyai jumlah penderita yang cukup banyak di Indonesia juga di seluruh dunia. Kadar gula yang tinggi akan dibuang melalui air seni. Dengan demikian air seni penderita kencing manis akan mengandung gula sehingga sering dilebung atau dikerubuti semut. Pada orang yang menderita kencing manis, glukosa sulit masuk ke dalam sel karena sedikit atau tidak adanya zat insulin dalam tubuh.  
Insulin merupakan suatu zat atau hormon yang dihasilkan oleh sel beta di pankreas yang berfungsi sebagai pengatur metabolisme. Dalam proses metabolisme insulin memegang peran yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel. Selama kadar glukosa dalam darah tinggi, insulin akan terus dikeluarkan oleh pankreas, sampai kadar gula darah turun ditingkat tertentu. Pada saat itu pankreas akan berhenti mengeluarkan insulin dan kadar insulin pada darah akan turun. 
Tanpa adanya insulin yang berguna untuk mengontrol glukosa dalam sel-sel maka tingkat glukosa darah akan melebihi standar, hal ini dapat menyebabkan kadar glukosa dalam darah menjadi tinggi yang nantinya dapat memberikan efek samping yang bersifat negatif yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai penyakit seperti penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah tungkai, penyulit pada mata, ginjal dan syaraf
Untuk itu perlu dilakukan pengelolaan kadar glukosa dengan baik agar kadar glukosa tetap seimbang dan diharapkan dengan menyeimbangkan kadar glukosa dapat mencegah berbagai penyakit ataupun paling sedikit dapat menghambatnya. Dalam pengelolaan kadar glukosa darah terdapat 4 pilar utama yang perlu dilakukan, diantaranya perencanaan makanan, latihan jasmani, obat berhasiat hipoglikemik dan penyuluhan.
Terdapat dua tipe diabetes mellitus, DM tipe 1 adalah diabetes mellitus yang disebabkan oleh tubuh kekurangan hormon insulin atau istilahnya Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) dan DM tipe 2 diabetes mellitus yang disebabkan oleh hormon insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan semestinya atau istilahnya Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Berikut ini beberapa perbedaan penyakit antara DM tipe 1 dan DM tipe 2 yang dapat pada tabel 2.1.

Perbandingan antara DM tipe 1 dengan DM tipe 2

DM Tipe 1
DM Tipe 2
Nama Lama
DM Juvenil
DM Dewasa
Keadaan klinik saat diagnosis
Berat
Ringan
Kadar insulin
Tidak ada
Insulin cukup tinggi
Berat badan
Biasanya kurus
Biasanya gemuk / normal
Pengobatan
Insulin, diet, olah raga
Insulin, diet, olah raga

Macam – macam Diabetes  

Diabetes Tipe 1
Diabetes tipe ini muncul ketika pankreas sebagai pabrik insulin tidak dapat atau kurang mampu memproduksi insulin. Akibatnya, insulin tubuh kurang atau tidak ada sama sekali. Glukosa menjadi menumpuk dalam peredaran darah karena tidak dapat diangkut ke dalam sel. Diabetes tipe 1 juga disebut insulin-dependent-diabetes karena si pasien sangat tergantung pada insulin. Ia memerlukan suntikan insulin setiap hari untuk mencukupi kebutuhan insulin dalam tubuh. Karena biasanya terjadi pada usia yang sangat muda, dulu diabetes tipe ini juga disebut juvenile diabetes. Namun, kedua istilah ini kini telah ditinggalkan karena diabetes tipe 1 kadang juga ditemukan pada usia dewasa.

Disamping itu, diabetes tipe lain bisa juga diobati dengan suntikan insulin. Oleh karena itu, sekarang istilah yang dipakai adalah diabetes tipe 1. Diabetes tipe 1 biasanya adalah penyakit otoimun, yaitu penyakit yang disebabkan oleh gangguan sistem imun atau kekebalan tubuh si pasien dan mengakibatkan rusaknya sel pankreas. Teori lain juga menyebutkan bahwa kerusakan pankreas adalah akibat pengaruh genetik (keturunan), infeksi virus atau malnutrisi. 

Dari semua penderita diabetes, 5-10 persennya adalah penderita diabetes tipe 1. Di Indonesia, statistik mengenai diabetes tipe 1 belum ada, diperkirakan hanya sekitar 2-3 persen. Mungkin ini disebabkan karena sebagian tidak terdiagnosis atau tidak diketahui sampai si pasien sudah mengalami komplikasi dan keburu meninggal. Penyakit ini biasanya muncul pada usia anak atau remaja, baik pria maupun wanita. Biasanya gejalanya timbul mendadak dan bisa berat sampai mengakibatkan koma apabila tidak segera ditolong dengan suntikan insulin.

Diabetes Tipe 2
Diabetes tipe ini adalah yang paling banyak dijumpai. Biasanya terjadi pada usia di atas 40 tahun, tetapi bisa pula timbul pada usia di atas 20 tahun. Sekitar 90-95 persen penderita diabetes adalah diabetes tipe 2. Pada diabetes tipe 2, pankreas masih bisa bisa membuat insulin, tetapi kualitas insulinnya buruk, tidak dapat berfungsi dengan baik sebagai kunci untuk memasukkan glukosa ke dalam sel. Akibatnya, glukosa dalam darah meningkat. Pasien biasanya tidak perlu tambahan suntikan insulin dalam pengobatannya, tetapi memerlukan obat yang bekerja untuk memperbaiki fungsi insulin itu, menurunkan glukosa, dan memperbaiki pengolahan glukosa di hati. Kemungkinan lain terjadinya diabetes tipe 2 adalah bahwa sel-sel jaringan tubuh dan otot si pasien tidak peka atau sudah resisten terhadap insulin (dinamakan resistensi insulin atau insulin resistance) sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel dan akhirnya tertimbun dalam peredaran darah. Keadaan ini umumnya terjadi pada pasien yang gemuk atau mengalami obesitas.

Sama halnya dengan diabetes tipe 1, diabetes tipe 2 juga mempunyai nama lain, yaitu non-insulin dependent diabetes atau adult onset diabetes. Namun, kedua istilah ini juga kurang tepat karena diabetes tipe 2 kadang juga membutuhkan pengobatan dengan insulin dan bisa timbul pada usia yang masih remaja.

Penyebab Diabetes
Gula dalam darah berasal dari makanan yang diolah secara kimiawi oleh hati. Sebagian gula disimpan dan sebagian lagi digunakan untuk energi. Insulin bentuknya unik, menempel dalam wadah-wadah khusus pada permukaan sel-sel di seluruh tubuh. Dengan cara demikian, insulin membuat sel-sel sari gula dari darah dan mencegahnya untuk menghancurkan protein dan lemak. Hanya hormone insulin yang dapat menurunkan gula darah dengan berbagai cara, yakni :

  1. Dengan meningkatkan jumlah gula yang disimpan di dalam hati berbentuk glikogen.
  2. Dengan mencegah hati mengeluarkan terlalu banyak gula.
  3. Dengan merangsang sel-sel tubuh agar menyerap gula.
Mekanisme lain di dalam tubuh bekerjasama dengan insulin untuk mempertahankan tingkat gula darah yang tepat. Jadi, insulin adalah satu-satunya zat di dalam tubuh yang dapat menurunkan tingkat gula darah, sehingga jika suplainya berkurang, seluruh sistem tidak seimbang lagi. Setelah makan, tidak ada yang mengerem penyerapan gula dari makanan, sehingga tingkat gula dalam darah meningkat.
Jika konsentrasinya melebihi tingkat tertentu, gula mulai keluar dari darah ke dalam urin. Infeksi, seperti sistitis (radang kandung kemih) dan sariawan dapat lebih cepat berkembang jika urin manis, karena kuman-kuman berkembang lebih cepat.

Akibat lain naiknya gula darah adalah buang air kecil lebih sering, sebab kelebihan gula dalam darah disaring keluar oleh ginjal dengan mengeluarkan lebih banyak garam dan air. Kelebihan produksi urin ini disebut poliuria, yang merupakan gejala awal diabetes. Jika tidak segera diobati, penderita akan mengalami dehidrasi dan kehausan. Seperti dijelaskan di atas, selain mengatur gula darah, insulin juga mencegah turunnya berat badan dan membantu membuat jaringan tubuh. Maka orang yang gagal atau kurang menghasilkan insulin biasanya akan kehilangan berat badan.

Gejala-Gejala Diabetes
Kadar glukosa dalam darah biasanya berfluktuasi, naik turun sepanjang hari dan setiap saat, tergantung pada makanan yang masuk dan aktivitas fisik. Apabila puasa semalam, normal glukosa darah adalah 70-110 mg/dl, kadar ini kira-kira sama dengan satu sendok teh gula dalam satu galon air.
Menurut kriteria International Diabetes Federation (IDF), American Diabetes Association (ADA), dan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), apabila glukosa darah di atas 140 mg/dl dan 2 jam sesudah makan di atas 200 mg/dl, diagnosis diabetes bisa dipastikan.
American Diabetes Association (ADA) malah menganjurkan bahwa pengobatan diabetes harus sedini mungkin. Berdasarkan pengalaman riset selama 15 tahun, bila glukosa darah di atas 140 mg/dl, si pasien harus cepat ditangani agar jangan sampai terjadi kerusakan organ tubuh dan timbul komplikasi. Apabila kadar glukosa darah puasa antara 111-125 mg/dl, itu disebut keadaan glukosa puasa yang terganggu atau Impaired Fasting Glucose (IFG). Adapula yang menamakannya Border line Diabetes atau Prediabetes. Apabila keadaan ini terjadi dokter harus mengambil langkah untuk mengontrol glukosa darah agar tidak timbul komplikasi serius di kemudian hari.

Kadar Glukosa darah

Mg/dl
Mmol/dl
Diabetes Mellitus


Puasa
>126
> 7.0
2 Jam sesudah makan
> 200
> 11.1



Impaired Glucose Tolerance (IGT)


Puasa
<126
< 7.0
2 Jam sesudah makan
> 140 & 200
> 7.8 & 11.1



Impaired Fasting Glucose (IFG)


Puasa
> 110 & <126
> 6.1 & < 7.0
2 Jam sesudah makan
> 140
< 7.8
Jika kadar glukosa darah tidak normal tetapi belum termasuk kriteria diagnosis diabetes, misalnya glukosa darah puasa di bawah 140 mg/dl tetapi 2 jam sesudah makan 140-200 mg/dl, keadaan ini disebut sebagai Toleransi Glukosa Terganggu atau Impaired Glucose Tolerance (IGT). Seseorang dengan IGT mempunyai resiko terkena diabetes tipe 2 jauh lebih besar daripada orang biasa. Bila dokter curiga telah muncul IGT, maka dianjurkan untuk menjalani Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) atau Oral Glucose Tolerance Test (OGTT).
Setelah puasa selama 10 jam (satu malam), dan pengambilan darah serta pemberian minum glukosa sebanyak 75 gram, kemudian akan dilakukan pemeriksaan kadar glukosa lagi. Apabila glukosa darah puasa di bawah 140 mg/dl tetapi glukosa darah 2 jam sesudah konsumsi glukosa 75 gram di atas 200 mg/dl, itu berarti anda mengidap diabetes.
Ada dua keluhan utama atau klasik akibat glukosa darah yang tinggi. Pertama, glukosa yang tinggi akan menarik air keluar lewat kencing, sehingga kencing menjadi sering dan banyak. Kedua, akibat banyak kencing pasien merasa sangat haus. 
1. Banyak Kencing
 Ginjal tidak dapat menyerap kembali glukosa yang berlebihan di dalam darah. Glukosa ini akan menarik air ke luar dari jaringan. Akibatnya, selain kencing menjadi sering dan banyak, juga sering terjadi dehidrasi atau kekurangan cairan.

2. Rasa Haus
Untuk mengatasi dehidrasi dan rasa haus yang ditimbulkannya, anda akan banyak minum dan minum terus. Kesalahan yang sering dijumpai adalah bahwa untuk mengatasi rasa haus, anda mencari softdrink yang manis dan segar. Akibatnya, glukosa darah makin naik dan hal ini dapat menimbulkan komplikasi akut yang membahayakan. 

3. BB Turun (Berat Badan menurun)
Sebagai kompensasi dari dehidrasi dan banyak minum, adalah banyak makan. Memang ada mulanya berat badan akan meningkat, tetapi lama kelamaan otot tidak mendapat cukup glukosa untuk tumbuh dan mendapatkan energi. Maka jaringan otot dan lemak harus dipecah untuk memenuhi kebutuhan energi. Berat badan makin turun meskipun banyak makan. Keadaan ini makin diperburuk oleh adanya komplikasi yang timbul kemudian.
Badan kurus banyak ditemui pada diabetes tipe 1. Pada diabetes tipe 2, kebanyakan penderitanya pada awalnya masih berbadan gemuk, tetap dikemudian hari berat badannya turun.
4.      Rasa seperti Flu dan Lemah
Keluhan diabetes dapat menyerupai sakit flu, rasa capek, lemah, dan nafsu makan menurun. Pada diabetes, gula bukan lagi sumber energy karena glukosa tidak dapat diangkut ke dalam sel untuk menjadi energi. 

4. Mata Kabur
Glukosa darah yang tinggi akan menarik pula cairan dalam lensa mata sehingga lensa mata menjadi tipis. Mata pun mengalami kesulitan untuk fokus dan penglihatan menjadi kabur. Apabila kadar glukosa darah dapat dikontrol dengan baik, penglihatan bisa menjadi baik karena lensa mata kembali normal. Inilah sebabnya orang yang menderita diabetes sering berganti-ganti ukuran kacamata karena kadar glukosa naik –turun dan tidak terkontrol dengan baik.

5. Luka yang sukar sembuh
Penyebab luka yang sukar sembuh adalah (1) infeksi yang hebat, kuman, atau jamur yang mudah tumbuh pada kondisi gula darah yang tinggi; (2) kerusakan dinding pembuluh darah, aliran darah yang tidak lancar pada kapiler (pembuluh darah kecil) yang menghambat penyembuhan luka; dan (3) kerusakan saraf dan luka yang tidak terasa menyebabkan penderita diabetes tidak menaruh perhatian padanya dan membiarkannya makin membusuk. 

6. Rasa Semutan
Kerusakan saraf yang disebabkan oleh glukosa yang tinggi merusak dinding pembuluh darah dan akan mengganggu nutirisi pada saraf. Karena yang rusak adalah saraf sensoris, keluhan yang paling sering muncul adalah rasa semutan atau tidak berasa terutama pada tangan dan kaki. Selanjutnya bisa timbul rasa nyeri pada anggota tubuh, betis, kaki, tangan, dan lengan bahkan kadang terasa seperti terbakar.

7. Gusi Merah dan Bengkak
Kemampuan rongga mulut menjadi lemah untuk melawan infeksi. Maka gusi membengkak dan menjadi merah, muncul infeksi, dan gigi tampak tidak rata dan mudah tanggal.
9.      Kulit terasa kering dan gatal
Kulit terasa kering, sering gatal, dan infeksi. Keluhan ini biasanya menjadi penyebab si pasien datang memeriksakan diri ke dokter kulit, lalu baru ditemukan adanya diabetes. 

8. Mudah Kena infeksi
Lekosit (sel darah putih) yang biasanya dipakai untuk melawan infeksi tidak dapat berfungsi dengan baik jika glukosa darah tinggi. Diabetes membuat anda lebih mudah terkena infeksi. 

9. Gatal Pada Kemaluan
Infeksi jamur juga “menyukai” suasana glukosa tinggi. Vagina mudah terkena infeksi jamur, mengeluarkan cairan kental putih dan kekuningan, serta rasa timbul gatal.

Semoga Bermanfaat .. 

Baca Juga : Dengan Orhiba, Diabetesku Sembuh

0 komentar:

Posting Komentar