Home » » Senandung Tembang Kematian

Senandung Tembang Kematian

Langit yang cerah perlahan menjadi gelap, hujan pun turun dengan perlahan membasahi bumi.

Pemakaman gang tujuh basah oleh hujan. Jalan tanah bertabur batu di sepanjang pemakaman menjadi becek dan licin. Bau tanah tersiram air, menguap memenuhi udara. Langit menjadi gelap, bintang dan rembulan tertutup awan.

Di malam seperti ini, orang lebih memilih berdiam diri di dalam rumah. Menonton televisi, mendengarkan radio, bercengkerama dengan keluarga atau menyembunyikan diri di balik selimut bercanda dengan mimpi. Bagi sepasang pengantin baru, suasana seperti ini yang membuat malam pengantin mereka menjadi semakin mesra.

Jalan sepanjang pemakaman ini lenggang, sunyi senyap, tak seorang warga di sekitar pemakaman yang terlihat, biasanya satu atau dua orang masih berada di beranda rumah mereka. Namun, bagi orang yang berniat atau memiliki rencana jahat, malam ini adalah malam yang tepat.

Diujung gerbang pemakaman tampak seorang pemuda berlari-lari kecil memasuki pemakaman. Sampai di jalanan yang becek, Brodin, pemuda itu, melangkahkan kakinya dengan hati-hati, menapaki jalan pemakaman setapak demi setapak.

Andai saja ia tidak harus bekerja untuk mencari biaya sekolahnya, mungkin lebih enak tidur di rumah daripada harus berjalan ditengah rintik hujan. Demi sekolahnya, demi Emaknya ia memaksakan diri menyeberangi perkampungan, melewati pemakaman angker, untuk bekerja menjadi seorang waker atau penjaga malam di rumah seorang pejabat. Satu-satunya pejabat yang mau mempekerjakan anak seusianya, yang mau membiayai sekolahnya.

Mengingat kebaikan pejabat itu, Brodin tidak pernah absen bekerja walaupun hari hujan sekalipun, seperti malam ini.

Brodin berjalan tergesa-gesa, menghindari hujan, ingin secepatnya sampai di perkampungan yang ada di ujung pemakaman.

Ketika hampir sampai di tengah pemakaman, ia terkejut ketika seseorang muncul dari balik pohon pinus menghadang langkahnya. Sepertinya memang sengaja menunggu Brodin melewati tempat itu.

Sejenak Brodin tertegun, firasatnya menangkap adanya bahaya. Pandangannya diedarkan ke sekelilingnya, tampak semak-semak dibelakangnya bergoyang-goyang seperti ada orang yang bersembunyi di dalamnya.

"Malam Mas, numpang lewat." Kata Brodin minta ijin. Orang itu diam saja dan terus menghalangi langkahnya.

"Maaf Mas, ada masalah apa sehingga menghalangi langkah saya. Saya mau kerja, tidak mencari masalah."

"Saya yang ingin mencari masalah.." Jawab orang itu sambil melontarkan pukulan. Brodin menangkis, orang itu memburunya, Brodin melawan sehingga terjadi perkelahian. Setelah  serangannya beberapa kali tidak mengenai sasaran, orang itu nampak gelisah.

Pandangannya berpaling ke semak-semak belukar di belakang Brodin, seolah memberi isyarat minta bantuan. Namun semak-semak itu tetap diam.

Sedetik, saat dia mengalihkan pandangannya, membuka kesempatan bagi Brodin untuk menyerangnya, Brodin melayangkan tinjunya tepat mengenai rahang, orang itu terjatuh sambil mengaduh.

Keluhan pendek orang itu, menjadi tanda bagi teman-temannya. Dari semak-semak belukar di belakang Brodin, berlompatan teman-temannya, langsung mengepung Brodin dari segalah arah. Brodin kaget, ia tidak menyangka akan dikeroyok orang sebanyak ini. Tidak ada celah baginya untuk melarikan diri.

Dirabanya pinggangnya, mencari pisau yang biasa dibawanya untuk menghadapi situasi seperti ini, sayang pisaunya ketinggalan. Sehingga ia harus melawan mereka dengan tangan kosong. 1 melawan 8 orang, jumlah yang sangat jauh berimbang.

Satu orang menyerang dengan tendangan lurus dapat dihindarinya, tapi dari belakang mereka menyerang beramai-ramai, ada yang menendang dan ada yang memukul. Brodin hanya mampu bertahan dengan melindungi wajahnya dengan kedua belah tangannya.

Semakin lama pertahanannya semakin lemah, sehingga dengan mudah pukulan dan tendangan lawan mengenai wajah dan tubuhnya.

Brodin terhuyung-huyung, belum sempat ia mengatur posisinya, pukulan atau tendangan lawan sudah mengenai tubuhnya lagi. Brodin menjadi bulan-bulanan, tanpa mampu melawan.

Bertubi-tubi mereka menghajarnya tanpa belas kasihan, hingga sebilah pisau menancap di perutnya. Brodin tergeletak sambil memegangi perutnya. Saat tergeletak di tanah, ia  mengamati satu per satu  wajah  pengeroyoknya.

Melihat Brodin tergeletak tak berdaya, para pengeroyoknya meninggalkannya sambil memaki dan meludahi wajahnya.

Brodin hanya bisa diam sambil menyeringai kesakitan. Setelah mereka pergi, Brodin mengikat luka di perutnya dengan kaos yang dikenakannya. Lalu, berjalan tertatih-tatih menuju kampung di depannya.

Ingin rasanya ia berteriak minta pertolongan, tapi ia menyadari dirinya sedang berada di tengah-tengah pemakaman yang sepi dan jauh dari perkampungan sehingga diurungkan niatnya. Lalu ia memaksakan dirinya untuk berjalan sambil memegangi luka di perutnya. Semakin ia berjalan, darah mengalir lebih deras dari luka itu.
burung kedasih
Burung Kedasih - Lagu Kematian

Tapi ia harus terus berjalan, jika tidak tertolong secepatnya, maka kematian akan menjemputnya. Sungguh kebetulan, ia sedang berada di tengah pemakaman hingga bayangan kematian seolah dekat dan mencengkam jiwanya. Arwah - arwah seolah bangkit dari kuburnya, melambaikan tangan memanggil-manggil namanya, merubung dan mengajaknya pergi ke alam mereka.

Suara burung kedasih membelah kesunyian pemakaman, menyenandungkan lagu sedih, tembang kematian, membuat miris siapapun yang mendengarnya. 

Brodin mencoba bertahan, dihalaunya ilusi, dibuangnya bayangan-bayangan tentang kematian. Sementara darah semakin banyak keluar dari lukanya, pandangan matanya mulai berkunang-kunang, kepalanya pusing dan langkahnya menjadi semakin berat.

"Mati aku, Mak maafkan anakmu ini belum sempat berbakti kepadamu." Desisnya.

Ketika sampai di jembatan kecil yang menghubungkan pemakaman itu dengan perkampungan, ia sudah tidak mampu bertahan lagi. Dunia menjadi gelap, ia kehilangan kesadarannya, pingsan di pinggir jembatan..

Saat siuman, ia mendapati dirinya sudah berada di kamar rumah sakit Panti Nirmala. Rupanya, seorang bapak penduduk kampung yang mengenalinya, menemukan dan menolongnya lalu membawanya ke rumah sakit  yang dekat dengan pemakaman.

Luka di perutnya sudah dijahit dan dibalut, bercak darah dimukanya sudah dibersihkan. Tinggal rasa nyeri di sekujur tubuhnya ditambah luka di hatinya yang menganga.

Titik-titik air mata menetes membasahi pipinya, hatinya menjerit merenungi nasib yang menimpanya.

"Apa salahku? Apakah tidak perlu alasan bagi seseorang untuk menganiaya orang lain? Hanya karena kesalahan yang tidak ku mengerti, mereka tega berbuat seperti ini. Selama ini saya sudah berprilaku sopan, selalu menegur saat melewati sekelompok orang, tapi ini balasannya. Hantu saja merasa iba melihatku, mengapa manusia yang setiap malam kutegur dan ku sapa malah tega menganiayaku." Batin Brodin.

"Aku tidak terima di aniaya seperti ini, aku harus menuntut balas." Tekadnya.

Dalam ingatannya sudah terpatri wajah orang-orang yang mengeroyoknya.

Seminggu sudah berlalu, luka di perutnya sudah kering dan luka-luka di wajahnya sembuh, namun luka dihatinya masih berdarah, dendam itu masih membara.

Suatu malam, ia mengunjungi seorang tetangganya, mantan bromocorah yang selamat saat ramai-ramainya peristiwa 'Petrus' atau penembakan misterius. Hanafi namanya, sekarang sudah bertobat dan menjadi seorang penarik becak.

Pada masa keemasannya, dia adalah salah seorang bromocorah yang paling ditakuti di daerahnya karena kekejaman dan kesaktiannya. Tubuhnya tinggi besar, wajahnya mirip Jhony Indo, kulitnya coklat kehitaman. Sebuah bekas luka di wajahnya menambah angker penampilannya.

Saat peristiwa petrus meletus, dia adalah salah satu targetnya. Teman-teman seprofesinya sudah banyak yang menjadi korban, tertembus timah panas atau dengan cara yang lain. Sementara yang masih hidup, melarikan diri.

Hingga suatu malam, sekelompok orang bertopeng menjemputnya dengan paksa lalu membawanya pergi entah kemana. Orang-orang sudah menganggapnya mati, namun tiga bulan kemudian, dia kembali dengan keadaan segar bugar.

Sejak itu, dia dikenal memiliki ilmu kebal dan kesaktian yang lain sehingga berhasil lolos dari kematian.

"Cak, aku habis dapat musibah." Kata Brodin.

"Saya sudah dengar, terus sekarang apa yang kamu inginkan? Asal kamu tunjukkan orangnya, saya yang akan menyelesaikan." Jawab Hanafi yang sudah lama mengenal Brodin. Dia merasa prihatin dan marah.

"Bukan begitu Cak, biar saya sendiri yang akan menyelesaikan masalah ini."

"Tapi saya mau tanya, dimana saya bisa mempunyai ilmu kebal pukulan dan senjata seperti sampean?" Lanjut Brodin.

"Buat apa? Lebih baik saya saja yang mengurusnya, masa depanmu masih panjang, jangan ikuti jejak saya!"

"Terima kasih Cak, tapi saya belum puas jika saya belum membalas perlakuan mereka dengan tangan saya sendiri. Makanya sekarang saya mencari bekal untuk melaksanakan niatan itu. Sampai kapan saya harus mengandalkan sampean? Ada saatnya saya harus sendiri dan menyelesaikan masalah saya sendiri."

Hanafi diam.

"Kalau begitu, besok kamu ikut saya. Akan saya temukan kamu dengan guru saya." Kata Hanafi.

"Terima kasih, besok saya kemari lagi."

Keesokan harinya, Hanafi menepati janjinya. Brodin meminjam sepeda motor temannya lalu mereka berboncengan pergi mengunjungi guru Hanafi.

Guru Hanafi tinggal di desa Wonorejo salah satu desa di lereng gunung Arjuno.  Dekat dengan perkebunan Wonosari.

Saat melewati pasar Lawang, Hanafi menyuruh Brodin untuk membeli telur ayam kampung dan persyaratan lainnya yang dibutuhkan untuk tujuan ini.

Kira-kira satu jam perjalanan dari kota Malang, akhirnya mereka sampai di kediaman Ki Kedot, nama panggilan guru Hanafi. Seolah tahu akan kedatangan tamu, Ki Kedot sudah menunggu mereka di beranda rumahnya.

Sosoknya sederhana, mengenakan celana hitam, kaos oblong putih dan caping di kepalanya. Wajahnya tampak segar berseri, menghilangkan kesan seram dari cerita masa lalunya. Usianya hampir tujuh puluh tahun.

Hanafi bergegas menghampiri, memeluk dan mencium tangannya. Brodin mengikuti apa yang dilakukan temannya.

"Bagaimana kabarmu Fi? Ada perlu apa kalian jauh-jauh datang kemari?"

"Baik Ki, ini teman saya habis mengalami musibah, sekarang dia mau mencari 'sifat kandel' untuk membela diri." Jawab Hanafi. Kemudian Hanfi menceritakan kejadian yang menimpa Brodin.

Ki Kedot  manggut-manggut mendengar cerita Hanafi.

"Kamu bawa syaratnya?"

"Bawa Mbah." Jawab Brodin sambil menyerahkan sekantung tas plastik berisi persyaratan yang dibelinya.

Ki Kedot memeriksanya, setelah itu ia mengambil papan kayu yang diletakkan miring, kurang lebih 90 derajat tingkat kemiringannya.

Diambilnya telur ayam kampung itu satu per satu lalu digelindingkannya di atas papan itu. Telur yang berhenti di tengah-tengah papan diambilnya, yang jatuh dibiarkan saja.

Sungguh mengherankan, telur itu bisa berhenti di tengah-tengah papan. Aturannya telur-telur itu akan menggelinding kebawah, terjatuh dan pecah, namun ini tidak.

Setelah memperoleh sejumlah telur ayam yang berhenti di tengah, beliau masuk ke dalam kamarnya.

Kurang lebih lima belas menit kemudian, beliau keluar sambil membawa telur-telur yang sudah berlobang atasnya.

"Minum ini."

"Banyak sekali Mbah?" Tanya Brodin.

"Jangan banyak tanya, minum saja!" Bisik Hanafi.

Brodin menurut, diambilnya sebutir telur lalu diminumnya. Sesaat ia ingin muntah ketika merasakan sesuatu yang aneh di dalam telur itu. Kepalanya seperti berputar, matanya berkunang-kunang.

Ki Kedot memberinya segelas air putih, segera Brodin meminumnya. Perasaannya menjadi lebih baik.

"Minum lagi, sekaligus tiga butir!" Perintah Ki Kedot. Brodin meminum tiga butir telur lagi, setelah itu lima butir, tujuh butir dan yang terakhir sebelas butir.

Setelah minum telur-telur itu, badannya seperti melayang, ringan seperti kapas. Saat ia berusaha menyadari keadaannya, tiba-tiba dari belakang, Hanafi menghantamnya dengan balok kayu. Brodin sempat melihatnya, ia berteriak, "aduh .. Jangan Cak." Tapi balok itu sudah menghantamnya.

"Bukk .." Suara balok itu menghantam punggung Brodi.

Brodin tidak merasakan apa-apa, ia merasa seperti ditepuk saja punggungnya. Ia merasa heran. Dalam keheranannya, Hanafi mengambil sebilah parang yang habis diasah lalu menebas badan Brodin dengan parang itu.

"Clekk .. Clekk .. Clekk." Suara parang mengenai tubuh Brodin.

Kembali Brodin kaget, darahnya terkesiap saat dinginnya logam menyentuh badannya,  namun setelah merasakan tebasan itu hanya seperti pukulan sebuah lidi, ia diam saja.

"Bagaimana?" Tanya Ki Kedot.

"Tidak terasa sakit Mbah."

"Bagus, berarti apa yang saya isikan ke badanmu melalui telur-telur itu sudah berhasil, sudah masuk. Namun ada beberapa pantangan yang harus kamu hindari, untuk lebih jelasnya, kamu tanyakan kepada Hanafi!"

"Baik Mbah."

"Kalau tidak ada keperluan lain lagi, saya mau pergi ke sawah."

Setelah mengucapkan terima kasih, mereka berpamitan.

Sebulan kemudian terjadi kegemparan di kampung sekitar pemakaman gang 7, seorang pemuda ditemukan pingsan dengan sebilah pisau menancap di pahanya.

Minggu berikutnya, sekelompok pemuda yang sedang berpesta minuman keras di pinggir pemakaman, dihajar dua orang tak dikenal. Lima orang luka parah dan tiga lainnya babak belur.

Ketika sesepuh kampung menanyakan kepada mereka siapa pelakunya, mereka menjawab bahwa pelakunya adalah kelompok orang tak dikenal.

Dalam hati, mereka sudah merasa jera dan takut setelah menyaksikan dan mengalami sendiri keganasan Brodin, seorang pemuda yang dianggap lemah dan mudah dianiaya.

Sekarang mereka sudah menerima balasan akibat perbuatan mereka sendiri. 

Waktu itu sering terjadi perkelahian antar kampung, baik satu lawan satu maupun keroyokan.

Sebelum kejadian pengeroyokan Brodin, salah satu pemuda di kampung itu dikeroyok pemuda dari kampung Brodin. Mereka membalas dengan mengeroyok Brodin, yang setiap malam melewati kampung mereka. Brodin yang tidak tahu menahu dengan peristiwa itu menjadi tumbal pembalasan mereka.

Brodin merasa lega. Sekarang ia bebas melewati perkampungan sepanjang pemakaman gang 7 tanpa gangguan.

Kedekatan hubungannya dengan Hanafi, seorang bromocorah yang ditakuti, serta kabar burung bahwa ia memiliki ilmu kebal, membuat orang-orang yang akan mengganggunya berfikir dua kali.

Baca Juga : Aksara Jawa

1 komentar:

  1. Sampai kapan kau akan bertahan..
    Dicaci langit tak mampu menjerit..
    Orang yang tawakal itu tidak mengharap dan berharap pada makhluk atau sesuatu..tidak takut mati baginya kematian adalah rejeki terakhir yang diberikan Allah SWT padanya.

    BalasHapus