Tanggapan : Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru

Tanggapan : Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru – Sejak artikel tentang “Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru” di publish, beragam komentar yang menanggapi muncul dari berbagai daerah. Namun, karena tidak semuanya dapat dimunculkan maka kami hanya menyajikan komentar terbaik saja.

Tanggapan : Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru

Berikut ini adalah komentar-komentar yang berkaitan dengan tongkat dalam kisah Sunan Kalijaga berguru.

1. Rahmad Wiyanto, Malang

Alumnus FMIPA Brawijaya, SMA Negeri 1 Malang dan SMP Negeri 6 Malang ini merupakan seorang praktisi spiritual yang memiliki sikap andap asor. Namun, laku tirakat dan prihatin sudah menjadi kebiasaan dalam kesehariannya. Berikut komentarnya.

Lek menurutku tongkat yang ditancapkan adalah hanya perumpamaan/sanepo :

Tongkat menghadap ke atas..berarti segala tindak tanduk Billah ( hanya- untuk-karena Allah SWT)
Jogo kali..manusia harus menjaga keseimbangan alam semesta.(lihat QS Ar Rahman).

Sungai (air) adalah faktor dalam kehidupan manusia. Selain 80 persen unsur penting di dalam tubuh manusia berupa air. Air berupa sungai juga menjadi urat nadi ekosistem kehidupan dunia. Secara tersirat filsafat air juga menyadarkan kita tentang keseimbangan alam tersebut.

Di samping ngaji laku berat yang dijalani Raden Sa'id dengan ikhlas beliau sendiri sadar makna (mati=puasa).

Mati (=puasa) adalah rejeki terakhir yang diberikan Allah SWT pada kita. Sehingga kita berusaha melatih dengan cara puasa. Bisa puasa dalam tataran awal(Ramadhan) sampai pada puasa dari hal-hal yang menyebabkan Allah SWT tidak ridho pada kita.

Intisari dakwah adalah mengajak kebaikan dengan cara yang baik pula. Selama jogo kali Raden Sa'id berdakwah untuk dirinya sendiri dengan ikhlas baru setelah kedatangan Sunan Bonang lagi beliau berdakwah untuk semesta.

2. Anang Sudjarwoko, Balikpapan

Seorang praktisi spiritual yang tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur, menyempatkan memberikan komentar berkaitan dengan laku tirakat seperti yang dilakukan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang
Sunan Bonang
Gambar : www.walisembilan.com

Sunan Bonang paham akan potensi yang ada pada diri Raden Said, putra bangsawan namun berlaku sebagai seorang perampok budiman. Sebelum bertemu Sunan Bonang, Raden Said adalah seorang perampok yang terkenal dan disegani dengan julukan Brandal Lokajaya yang memiliki banyak ilmu kesaktian dan dasar ilmu agama yang cukup,

Sehingga Sunan Bonang yang sedang mencari seseorang yang dapat diandalkan dalam penyebaran agama Islam langsung menggemblengnya dengan ilmu ketuhanan tingkat tinggi termasuk dalam mengenal dirinya sendiri.

Karena, “barang siapa mengenal dirinya niscaya akan mengenal Tuhan.

Dan, setelah mengajarkan tentang ilmu ketuhanan, barulah Sunan Bonang meninggalkannya seorang diri untuk lebih mengerti, memahami dan menerapkan ilmunya dalam kehidupannya.

Jadi, tongkat dalam kisah itu, hanyalah kiasan tentang hubungan vertikal dengan Tuhan yang harus terus tegak berdiri.

Penutup

Itulah dua tanggapan tentang artikel “Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru.” Maknanya adalah menegakkan hubungan vertikal terlebih dahulu sebelum memperkuat hubungan horizontal dengan sesama mahluk Tuhan.

Semoga Bermanfaat..

Artikel Lainnya :


Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru

Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru – Satu pertanyaan yang mengganjal di hati ketika mendengar, membaca atau menyaksikan kisah Sunan Kalijaga saat berguru kepada Sunan Bonang. Dimana Raden Said harus menunggu tongkat yang ditancapkan oleh Sunan Bonang di pinggir sungai sampai sang guru kembali menemuinya.

Tongkat yang ditancapkan.

Apakah memang mengandung makna sesungguhnya yaitu sebuah tongkat terbuat dari kayu dengan fungsi sebagai penuntun jalan yang ditancapkan oleh Sunan Bonang untuk menguji kesungguhan dan kesabaran Raden Said, seorang perampok budiman atau memiliki makna tersirat lainnya?

Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru

Dalam kisah yang pernah kita dengar, di pinggir sungai, Brandal Lokajaya menunggui tongkat gurunya tersebut hingga bertahun-tahun lamanya sampai-sampai tidak sempat merawat tubuhnya sehingga rambut, jambang  dan kumisnya tumbuh panjang. Bahkan badannya ditumbuhi lumut dan dikerubuti akar-akar tanaman dan tanaman menjalar lainnya. 

Sehingga orang-orang yang melihatnya menyebutnya sebagai “seng jogo kali” atau “kali jogo” atau penunggu sungai.

Dan, pertapaannya di pinggir sungai berakhir ketika beberapa tahun kemudian Sunan Bonang kembali menemuinya.

Dalam pemikiran saya yang masih dangkal, jika tongkat itu hanyalah tongkat kayu biasa maka perjuangan Sunan Kalijaga memang sangatlah luar biasa mengingat kesungguhan dan kesabarannya yang tinggi dalam usahanya menuntut ilmu. Dan itu bukanlah hal yang sulit bagi orang-orang jaman dulu yang memang gemar laku prihatin.

Namun, jika itu hanya sebuah tongkat biasa saja, fisik manusia memiliki keterabatasan. Jangankan sampai bertahun-tahun, menjalankan laku puasa selama 40 hari lamanya saja tanpa makan dan minum, hanya dapat dilakukan beberapa orang pilihan saja. 

Sedangkan apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, bertahun-tahun lamanya tanpa makan dan minum bahkan beliau sudah tidak memperhatikan kebutuhan badannya lagi, sudah melewati ambang batas kemampuan fisik seorang manusia.

Kecuali beliau sudah mengenal, merasakan dan mengetahui keberadaan rahasia Tuhan yang ada di dalam dirinya. 

Sehingga menurut pendapat penulis, tongkat yang ditancapkan itu adalah satu kiasan tentang pengertian, pemahaman dan penerapan ajaran tauhid yang ditancapkan dalam-dalam ke dasar hati Raden Said.

Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga

Dan setelah meyakini ajaran tauhid tersebut hingga merasuk sampai ke tulang terdalamnya, yang dibutuhkan waktu hingga bertahun-tahun, maka Sang Brandal Lokajaya ini berubah menjadi sosok Wali dan penyebar agama Islam terkenal di pulau Jawa.

Itulah sekelumit penafsiran penulis tentang pengertian tongkat yang ditancapkan di pinggir sungai oleh Sunan Bonang dalam kisah Raden Said berguru.

Jika anda memiliki penafsiran lain tentang hal itu, mari kita berbagi. Silahkan isi pendapat anda pada kolom komentar yang ada dibawah ini.


Semoga bermanfaat..


Awas !!! Merantau Ke Kalimantan Tidak Bisa Pulang Kembali

Puter Giling Kalimantan – Satu lagi misteri tentang bumi Kalimantan yang menarik untuk dijadikan sebagai bahan renungan dan peringatan bagi kita yaitu tentang ilmu puter giling dari Borneo. Satu ilmu yang membuat seseorang tidak bisa meninggalkan tanah Kalimantan atau pulang kembali ke kampungnya apabila telah berbuat kesalahan terutama dalam hubungan cinta.

Awas !!! Merantau Ke Kalimantan Tidak Bisa Pulang Kembali

Jika sebelumnya sudah kita bahas tentang alat vital yang bisa hilang saat berbuat salah, maka kali ini juga merupakan satu kisah nyata yang dialami oleh seorang teman. Sebut saja namanya Anto, seorang perantauan dari kota Malang.


Anto Dan Puter Giling Kalimantan

Pada tahun 1980 an, Anto adalah seorang pemuda gagah yang penuh gairah hidup. Selain sebagai seorang teknisi di perusahaan asing, Anto adalah seorang atlet tinju yang pernah merasakan medali perak PON. Sehingga memiliki postur tubuh yang atletis dan gagah.

Namun, kelebihannya itu tidak diimbangi dengan sikap mental yang baik apalagi ia banyak bergaull dengan karyawan ekspatriat dengan gaya hidup ala kebarat-baratan. Sehingga Anto pun terpengaruh dengan gaya hidup mereka lalu meninggalkan adat ketimuran yang penuh etika dan tata karma.

Selain akrab dengan minuman keras, kebiasaan gonta-ganti pasangan juga menjadi salah satu perilaku buruk yang dianutnya. Maklum, secara materi ia cukup. Pekerjaannya di perusahaan asing mendapatkan imbalan gaji yang lebih sehingga gaya hidupnya pun turut berubah.

Petualangan cintanya pun semakin menggila, dengan penghasilannya yang diatas rata-rata, ia bisa memilih wanita yang disukainya. Hampir wanita dari berbagai suku yang ada di kota Samarinda, tempatnya tinggal, pernah menjalin hubungan dengannya.

Namun, seperti peribahasa, “sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga.”  Begitu pula yang terjadi dengan petualangan cinta Anto.

Gadis Dayak
Gadis Dayak

Semenjak kenal dengan gadis cantik dari pedalaman Kalimantan, Anto memutuskan untuk tinggal serumah tanpa ikatan resmi atau kumpul kebo dengannya. Anto cukup paham dengan budaya dan pantangan saat menjalin hubungan dengan wanita pedalaman termasuk salah satunya adalah tidak pernah mengucapkan janji akan menikahinya.

Namun, meskipun  berusaha berhati-hati, kelepasan juga akhirnya sehingga terucap janji untuk menikahi pasangan samen lavennya itu.

Dasar buaya,setelah beberapa bulan bersama, Anto merasa bosan juga lalu berniat meninggalkan pasangannya tersebut. Jika ia mengutarakan dengan terus terang untuk memutuskan hubungan, resikonya cukup berbahaya, maka ia merencanakan untuk meninggalkan pasangannya dengan diam-diam.

Awas !!! Merantau Ke Kalimantan Tidak Bisa Pulang Kembali


Kebetulan, teman satu kampung mengajaknya pulang ke Malang karena akan menikah. Maka, Anto menggunakan alasan mengantarkan temannya tersebut untuk meninggalkan pasangannya. Tiket kapal laut sudah dipegang, maka berdua bersama teman satu kampungnya Anto menuju pelabuhan Semayang, Balikpapan menuju Surabaya.  

Tiba di pelabuhan Semayang, Balikpapan. Anto merasa lega karena selangkah lagi ia dapat menyelesaikan rencana untuk meninggalkan pasangannya. Namun, entah mengapa, ia terpisah dengan teman perjalanannya. Tapi ia tidak menjadi bingung karena ia memegang sendiri tiket kapal laut itu.

Sambil menghisap sebatang rokok, ia menunggu keberangkatan kapal yang akan mengantarnya ke pulau Jawa. Tapi, setelah menunggu hampir dua jam, kapal yang akan mengantarnya belum juga berangkat, maka ia bergegas bertanya kepada petugas pelabuhan sambil menunjukkan tiketnya.

Ternyata, kapalnya sudah berangkat satu jam yang lalu. Dan, itu kapal terakhir yang berangkat ke Surabaya pada hari itu.

Anto menjadi kebingungan sendiri. Padahal saat ia menunggu, banyak penumpang lainnya yang duduk bersamanya, namun, saat mereka berangkat, ia tidak mengetahuinya sama sekali. Sehingga rencananya gagal.

Tidak putus asa, sebulan berikutnya, Anto kembali ke pelabuhan Semayang dengan tiket kapal yang sudah dipesannya beberapa hari sebelumnya. Niatnya sama, mau meninggalkan pasangannya. Akan tetapi, kejadian ketinggalan kapal terulang lagi. Dan, Anto kembali gagal.

Dua kali gagal tidak menyurutkan langkah Anto untuk meninggalkan pasangan samen avennya itu. Kali ini, ia berencana naik pesawat terbang. Dan, ia sudah berada di bandara Sepinggan tepat satu jam sebelum keberangkatannya. Setelah check in, ia duduk di ruang tunggu keberangkatan bersama penumpang lainnya.

Tiba-tiba, ia tertidur dalam posisi duduk. Dan, bangun ketika pesawatnya sudah berangkat. Sambil menyumpah-nyumpah tidak karuan, Anto kembali pulang ke Samarinda.

Begitu seterusnya, setiap kali ia berusaha meninggalkan kekasih gelapnya itu, meskipun menggunakan berbagai moda transportasi bermacam-macam, usahanya selalu gagal dan ia pulang kembali ke pangkuan pasangannya lagi.

Itulah pengalaman dari Anto, seorang perantauan dari kota Malang, yang pernah merasakan bagaimana pengaruh ilmu puter giling dari Kalimantan.

Penutup

Demikian sekelumit kisah nyata dari seorang teman yang pernah merasakan misteri ilmu puter giling dari Kalimantan sehingga tidak bisa pulang kembali ke kampung halamannya.

Menurut pengamatan penulis, semua itu adalah buah dari perbuatannya sendiri. Dimana pun kita berada, memang sudah semestinya tidak mengobral janji apalagi janji untuk menikah dengan seseorang. Karena janji akan dibawa sampai mati maka janganlah berjanji apabila tidak mampu menepatinya.



Alat Vital Hilang Di Kalimantan : Mitos Atau Fakta

Alat Vital Hilang Di Kalimantan : Mitos Atau Fakta – Ada satu mitos yang berkembang di pulau Kalimantan yaitu alat kemaluan pria akan hilang atau berpindah tempat apabila kita melakukan kesalahan terhadap gadis-gadis pedalaman. Terutama jika sudah menjalin kasih namun sang pria tidak mau lagi melanjutkan hubungannya.

Alat Vital Hilang Di Kalimantan : Mitos Atau Fakta

Cukup menyeramkan.

Saat mendengar cerita ini, sedikit ataupun banyak berpengaruh terhadap mereka yang mendengarnya, termasuk saya sendiri. Sehingga ketika merantau ke Kalimantan, kita akan berhati-hati dalam menjaga pergaulan dengan wanita pedalaman yang terkenal cantik dan berkulit kuning.

Berbeda dengan perantau asal kota Malang terutama yang memiliki jiwa petualang. Kisah-kisah seram seperti itu tidak membuatnya gentar malahan membuat mereka ingin mencoba dan membuktikan kebenarannya. 

Alhasil, mereka pun merasakan akibatnya.

Ada yang tidak bisa pulang ke Jawa lagi, ada yang alat vitalnya tidak berfungsi lagi dan ada pula yang merasakan kehilangan barang kesayangannya tersebut seperti dalam kisah diatas. Barulah, mereka sadar dan menyesal karena berbuat ceroboh dan bersikap sombong di pulau yang penuh misteri ini.

Sehingga jika kita bertanya apakah kisah-kisah tersebut adalah sebuah mitos belaka atau memang sebuah fakta, maka silahkan buktikan sendiri kebenarannya. Tapi, saran saya, jangan coba-coba melakukannya.

Karena penulis bersama teman-teman telah membuktikan kebenaran cerita tersebut. Sebaiknya anda baca juga tentang :

Kisah-kisah tersebut memang pelakunya dibuat fiktif untuk menjaga kerahasiaannya namun jalan ceritanya memang benar-benar terjadi.

Berikut ini adalah beberapa kisah nyata yang pernah dialami oleh teman-teman penulis saat mereka merantau ke Kalimantan.

Tiksan Dan Alat Vitalnya

Tiksan adalah seorang perantau dari kota Malang, tepatnya dari desa Mendalanwangi, Wagir, yang terkenal dengan perkebunan durian Montongnya. Pekerjaannya sebagai seorang pemborong bangunan mengharuskannya keluar masuk pedalaman Kalimantan.


Berbeda dengan Brodin dkk dalam cerita “Kisah Cinta Dalam Seikat Indomie”, Tiksan adalah sosok perantau yang tidak macam-macam. Niatnya merantau hanya untuk bekerja saja, tidak yang lain. Ia adalah seorang penganut agama Budha yang taat.

Namun, meskipun Tiksan tidak berbuat macam-macam dan selalu membatasi hubungannya dengan wanita, tapi malah membuat banyak wanita pedalaman yang penasaran akan sikapnya kemudian tertarik lalu menaruh hati kepadanya. Tapi Tiksan tidak menanggapinya.

Alat Vital Hilang Di Kalimantan : Mitos Atau Fakta
Ilustrasi
Sang gadis pedalaman, sebut saja namanya Omay, semakin penasaran. Di kampungnya, ia adalah bunga desa yang terkenal akan kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Sudah banyak pria yang jatuh hati dan berusaha mendapatkannya, namun ia menolaknya.

Kali ini, ketika perasaannya kepada Tiksan tidak ditanggapi, ia merasa sakit hati lalu mengadukannya kepada orangtuanya. Ayah Omay, menyuruh anaknya mengajak Tiksan ke rumahnya. Maka dengan bujuk rayu dan berbagai alas an, Omay berhasil mengajak Tiksan ke rumahnya yang berada di tengah belantara hutan Kalimantan.

Sesampainya dirumah Omay, Ayah Omay menyatakan kepada Tiksan jika anaknya menyukainya dan mau jadi istrinya. Namun, karena Tiksan sudah memiliki calon istri di Jawa, maka dengan sehalus mungkin, ia menolaknya.

Ayah Omay marah, lalu berkata, “Coba lihat burungmu sekarang!!!

Tiksan kaget lalu dengan reflek ia meraba alat vital kesayangannya. Wajahnya menjadi pucat, jantungnya berdegup kencang ketika mendapati barang kesayangannya tersebut tidak ada ditempatnya.

Lihat itu!!!” kata ayah Omay.

Tiksan mengarahkan pandangannya sesuai petunjuk orangtua itu. Kekagetanya semakin jadi, alat vitalnya berada diatas pintu, tergantung seolah sebuah hiasan. Tiksan terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Namun, kesadarannya perlahan timbul yang menuntunnya pada ajaran-ajaran yang pernah didengarnya, maka ia menetapkan hati dan fikirannya lalu mengarahkan pada sang Maha Pencipta, memohon bantuan dan pertolongannya.

Semua itu hanyalah semu..” Batinnya. Keyakinannya semakin lama semakin bertambah kuat lalu secara perlahan dirabanya lagi alat vitalnya.

Masih ada.” Gumamnya. Dan apa yang dilihatnya diatas pintu, hilang tak berbekas.

Ayah Omay menyadari kesalahannya lalu minta maaf. Perbuatannya tersebut hanya untuk menuruti kemauan anak gadisnya saja dan ternyata Tiksan memang tidak bersalah dan bukan jodoh anaknya. Maka, ayah Omay mengijinkan Tiksan pulang.

Itulah pengalaman menarik dari Tiksan, pemborong yang berasal dari desa Mendalanwangi, Wagir, Kabupaten Malang.

Penutup

Apa yang terjadi pada Tiksan menunjukkan bahwa hanya orang-orang bersalah yang akan menerima akibat perbuatannya seperti disebutkan diawal. Sedangkan orang yang benar dan memiliki keyakinan kuat seperti Tiksan akan selamat.

Pada umumnya, setiap daerah di belahan dunia memiliki tradisi dan keunikan masing-masing terutama dalam menjaga keluarga atau keturunannya dari gangguan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sehingga para orangtua menggunakan berbagai cara agar keluarganya tidak diganggu orang lain.

Semoga bermanfaat..


3 Hal Yang Menyebabkan Gagalnya Perjuangan Melawan Belanda

3 Hal Yang Menyebabkan Gagalnya Perjuangan Melawan Belanda 

Politik Adu Domba Dengan Iming-iming Harta, Tahta dan Wanita

Masa penjajahan Belanda di Indonesia sudah berakar selama 350 tahun lamanya, suatu masa penjajahan yang panjang. Apakah rakyat Indonesia pada waktu itu tidak melakukan perlawanan atau usaha untuk memerdekan diri?

Rakyat Indonesia baik dalam skala kecil maupun besar sudah melakukan berbagai usaha untuk melawan dan mengusir penjajah namun usaha tersebut selalu kandas karena politik adu domba yang diterapkan Belanda. Bangsa kita dengan mudah di adu dengan saudaranya sendiri,  dengan bangsanya sendiri dan dengan negaranya sendiri demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.

gambar perjuangan melawan belanda

Ada 3 hal yang menjadi iming-iming imbalan Belanda kepada bangsa kita agar memerangi, memusuhi dan menyingkirkan saudaranya sendiri yaitu harta, tahta dan wanita. Tiga hal ini memang menjadi kelemahan setiap manusia.

Berikut ini adalah kisah-kisah perlawanan rakyat Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Timur yang merupakan riak-riak kecil dalam gelombang melawan penjajahan Belanda dan berakhir dengan kegagalan akibat politik adu domba disertai iming-iming imbalan harta, tahta dan wanita.

1.    Untung Suropati

Untung Suropati adalah seorang Adipati Pasuruan pada masa kerajaan Mataram dibawah pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang gigih dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Awalnya, Untung Suropati adalah seorang budak, karena jatuh cinta kepada wanita yang bernama Suzana seorang nonik Belanda, ia menjadi buronan Belanda. Setelah melewati lika-liku perjalanan hidupnya, Untung Suropati memutuskan untuk melawan Belanda dan karena jasa-jasanya, akhirnya ia diangkat menjadi Adipati Pasuruan.

Mitos yang jarang diketahui orang adalah Untung Suropati memiliki kesaktian tidak mempan atau kebal terhadap segala macam senjata selama kakinya menginjak tanah atau bumi. kesaktiannya ini yang membuatnya susah ditangkap dan dibunuh oleh Belanda.

Namun dengan kelicikan politik adu domba serta iming-iming harta, tahta dan wanita, Belanda menggunakan bangsa kita sendiri untuk membocorkan rahasia kelemahan kesaktian Untung Suropati, Akhirnya Untung Suropati gugur dalam satu pertempuran.

2.    Sawung Galing

Sawung Galing adalah nama yang popular bagi masyarakat Surabaya karena Sawung Galing adalah Adipati Surabaya yang dengan berani melawan penjajahan Belanda.

Belanda menggunakan saudaranya sendiri yaitu Sawung Rana dan Sawung Sari, saudara satu bapak, untuk menyingkirkan Sawung Galing. Dengan iming-iming imbalan tahta Adipati Surabaya, apabila mereka berdua mampu menyingkirkan Sawung Galing.

Namun berbagai usaha pembunuhan terhadap Sawung Galing baik menggunakan cara halus seperti racun maupun cara kasar selalu dapat digagalkan. Sawung Galing meninggal bukan karena usaha pembunuhan namun karena sakit.

Baca Selengkapnya : Kisah Sawung Galing

3.    Sarip Tambak Oso

Sarip Tambak Oso adalah salah satu pejuang yang melawan Belanda di daerah Sidoarjo. Belanda mengantisipasi perlawanan Sarip sebelum berkembang menjadi besar dengan mengadu domba dengan Pamannya sendiri.

Sarip Tambak Oso memiliki kesaktian yang berada pada ibunya. Selama ibunya masih hidup maka Sarip tidak bisa mati. Jika Sarip mati, Ibunya akan memanggil namanya lalu Sarip akan hidup lagi.

Paman Sarip yang mengetahui rahasia tersebut membocorkannya kepada Belanda dengan imbalan harta, sehingga Sarip dapat dibunuh setelah ibunya dibunuh lebih dahulu.

Baca Selengkapnya : Kisah Sarip Tambak Oso

4.    Sogol Pendekar Sumur Gemuling

Nama Sogol adalah nama yang terkenal di Jawa Timur, khususnya daerah Jember dan Lumajang. Sebagai seorang Pendekar yang memiliki berbagai ilmu kesaktian, Sogol berjuang sendiri melawan Belanda. Perlawanannya membuat gerah Belanda sehingga Belanda kembali menggunakan politik adu domba untuk menyingkirkannya.

Pertama, Belanda menggunakan jasa seorang dukun santet terkenal yang bernama Kyai Mukti dari daerah Pasirian untuk membunuh Sogol, namun usahanya gagal dan Kyai Mukti mati ditangan Sogol.

Belanda mencari cara lain, melalui saudara seperguruan Sogol yang diiming-imingi dengan harta dan kedudukan, akhirnya Sogol dapat disingkirkan.

5.    Jaka Sambang

Jaka Sambang adalah seorang Pendekar dari gunung Gangsir, Pasuruan. Perlawanannya terhadap Belanda terjadi saat pembangunan jembatan Porong dimana rakyat harus kerja paksa untuk mewujudkannya.

Diawali dengan kematian bapaknya, Lurah Bintoro, ditangan antek-antek Belanda yaitu Lurah bargowo dan carik Abilowo. Joko Sambang melawan Belanda terutama membalaskan kematian bapaknya. Akhirnya Jaka Sambang dapat membunuh Lurah Bargowo dan carik Abilowo yang menjadi musuh bebuyutannya.

6.    Pak Sakerah

Sakera adalah seorang tokoh pejuang legenda kelahiran Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Ia berjuang melawan penjajahan Belanda sekitar permulaan abad ke-19. Sakera adalah seorang jagoan daerah, yang melawan perintah diktator Belanda di perkebunan tebu di daerah Bangil.

Sakera, seperti juga jagoan-jagoan daerah lainya, menjadi korban politik adu domba yang diterapkan Belanda. Sakera ditangkap Belanda setelah dikhianati oleh salah satu temannya sendiri.

Sakera dimakamkan di wilayah Bekacak, Kelurahan Kolursari. Daerah paling selatan di Kota Bangil. Legenda jagoan berdarah Madura ini sangat populer di Jawa Timur.

Demikian rangkuman dari beberapa kisah perjuangan rakyat Jawa Timur yang merupakan korban politik adu domba atau dikenal dengan politik devide et impera, memecah belah dan menguasai, yang dilakukan penjajah Belanda.

Sekarang Bangsa Indonesia sudah merdeka namun bentuk-bentuk penjajahan baik secara ekonomi dan ideologis masih mencengkeram kita. Marilah kita belajar dari sejarah, masihkah kita mau di adu domba dengan saudara kita sendiri? Semoga tidak.