Tanggapan : Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru

Tanggapan : Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru – Sejak artikel tentang “Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru” di publish, beragam komentar yang menanggapi muncul dari berbagai daerah. Namun, karena tidak semuanya dapat dimunculkan maka kami hanya menyajikan komentar terbaik saja.

Tanggapan : Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru

Berikut ini adalah komentar-komentar yang berkaitan dengan tongkat dalam kisah Sunan Kalijaga berguru.

1. Rahmad Wiyanto, Malang

Alumnus FMIPA Brawijaya, SMA Negeri 1 Malang dan SMP Negeri 6 Malang ini merupakan seorang praktisi spiritual yang memiliki sikap andap asor. Namun, laku tirakat dan prihatin sudah menjadi kebiasaan dalam kesehariannya. Berikut komentarnya.

Lek menurutku tongkat yang ditancapkan adalah hanya perumpamaan/sanepo :

Tongkat menghadap ke atas..berarti segala tindak tanduk Billah ( hanya- untuk-karena Allah SWT)
Jogo kali..manusia harus menjaga keseimbangan alam semesta.(lihat QS Ar Rahman).

Sungai (air) adalah faktor dalam kehidupan manusia. Selain 80 persen unsur penting di dalam tubuh manusia berupa air. Air berupa sungai juga menjadi urat nadi ekosistem kehidupan dunia. Secara tersirat filsafat air juga menyadarkan kita tentang keseimbangan alam tersebut.

Di samping ngaji laku berat yang dijalani Raden Sa'id dengan ikhlas beliau sendiri sadar makna (mati=puasa).

Mati (=puasa) adalah rejeki terakhir yang diberikan Allah SWT pada kita. Sehingga kita berusaha melatih dengan cara puasa. Bisa puasa dalam tataran awal(Ramadhan) sampai pada puasa dari hal-hal yang menyebabkan Allah SWT tidak ridho pada kita.

Intisari dakwah adalah mengajak kebaikan dengan cara yang baik pula. Selama jogo kali Raden Sa'id berdakwah untuk dirinya sendiri dengan ikhlas baru setelah kedatangan Sunan Bonang lagi beliau berdakwah untuk semesta.

2. Anang Sudjarwoko, Balikpapan

Seorang praktisi spiritual yang tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur, menyempatkan memberikan komentar berkaitan dengan laku tirakat seperti yang dilakukan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang
Sunan Bonang
Gambar : www.walisembilan.com

Sunan Bonang paham akan potensi yang ada pada diri Raden Said, putra bangsawan namun berlaku sebagai seorang perampok budiman. Sebelum bertemu Sunan Bonang, Raden Said adalah seorang perampok yang terkenal dan disegani dengan julukan Brandal Lokajaya yang memiliki banyak ilmu kesaktian dan dasar ilmu agama yang cukup,

Sehingga Sunan Bonang yang sedang mencari seseorang yang dapat diandalkan dalam penyebaran agama Islam langsung menggemblengnya dengan ilmu ketuhanan tingkat tinggi termasuk dalam mengenal dirinya sendiri.

Karena, “barang siapa mengenal dirinya niscaya akan mengenal Tuhan.

Dan, setelah mengajarkan tentang ilmu ketuhanan, barulah Sunan Bonang meninggalkannya seorang diri untuk lebih mengerti, memahami dan menerapkan ilmunya dalam kehidupannya.

Jadi, tongkat dalam kisah itu, hanyalah kiasan tentang hubungan vertikal dengan Tuhan yang harus terus tegak berdiri.

Penutup

Itulah dua tanggapan tentang artikel “Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru.” Maknanya adalah menegakkan hubungan vertikal terlebih dahulu sebelum memperkuat hubungan horizontal dengan sesama mahluk Tuhan.

Semoga Bermanfaat..

Artikel Lainnya :


Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru

Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru – Satu pertanyaan yang mengganjal di hati ketika mendengar, membaca atau menyaksikan kisah Sunan Kalijaga saat berguru kepada Sunan Bonang. Dimana Raden Said harus menunggu tongkat yang ditancapkan oleh Sunan Bonang di pinggir sungai sampai sang guru kembali menemuinya.

Tongkat yang ditancapkan.

Apakah memang mengandung makna sesungguhnya yaitu sebuah tongkat terbuat dari kayu dengan fungsi sebagai penuntun jalan yang ditancapkan oleh Sunan Bonang untuk menguji kesungguhan dan kesabaran Raden Said, seorang perampok budiman atau memiliki makna tersirat lainnya?

Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru

Dalam kisah yang pernah kita dengar, di pinggir sungai, Brandal Lokajaya menunggui tongkat gurunya tersebut hingga bertahun-tahun lamanya sampai-sampai tidak sempat merawat tubuhnya sehingga rambut, jambang  dan kumisnya tumbuh panjang. Bahkan badannya ditumbuhi lumut dan dikerubuti akar-akar tanaman dan tanaman menjalar lainnya. 

Sehingga orang-orang yang melihatnya menyebutnya sebagai “seng jogo kali” atau “kali jogo” atau penunggu sungai.

Dan, pertapaannya di pinggir sungai berakhir ketika beberapa tahun kemudian Sunan Bonang kembali menemuinya.

Dalam pemikiran saya yang masih dangkal, jika tongkat itu hanyalah tongkat kayu biasa maka perjuangan Sunan Kalijaga memang sangatlah luar biasa mengingat kesungguhan dan kesabarannya yang tinggi dalam usahanya menuntut ilmu. Dan itu bukanlah hal yang sulit bagi orang-orang jaman dulu yang memang gemar laku prihatin.

Namun, jika itu hanya sebuah tongkat biasa saja, fisik manusia memiliki keterabatasan. Jangankan sampai bertahun-tahun, menjalankan laku puasa selama 40 hari lamanya saja tanpa makan dan minum, hanya dapat dilakukan beberapa orang pilihan saja. 

Sedangkan apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, bertahun-tahun lamanya tanpa makan dan minum bahkan beliau sudah tidak memperhatikan kebutuhan badannya lagi, sudah melewati ambang batas kemampuan fisik seorang manusia.

Kecuali beliau sudah mengenal, merasakan dan mengetahui keberadaan rahasia Tuhan yang ada di dalam dirinya. 

Sehingga menurut pendapat penulis, tongkat yang ditancapkan itu adalah satu kiasan tentang pengertian, pemahaman dan penerapan ajaran tauhid yang ditancapkan dalam-dalam ke dasar hati Raden Said.

Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga

Dan setelah meyakini ajaran tauhid tersebut hingga merasuk sampai ke tulang terdalamnya, yang dibutuhkan waktu hingga bertahun-tahun, maka Sang Brandal Lokajaya ini berubah menjadi sosok Wali dan penyebar agama Islam terkenal di pulau Jawa.

Itulah sekelumit penafsiran penulis tentang pengertian tongkat yang ditancapkan di pinggir sungai oleh Sunan Bonang dalam kisah Raden Said berguru.

Jika anda memiliki penafsiran lain tentang hal itu, mari kita berbagi. Silahkan isi pendapat anda pada kolom komentar yang ada dibawah ini.


Semoga bermanfaat..


Awas !!! Merantau Ke Kalimantan Tidak Bisa Pulang Kembali

Puter Giling Kalimantan – Satu lagi misteri tentang bumi Kalimantan yang menarik untuk dijadikan sebagai bahan renungan dan peringatan bagi kita yaitu tentang ilmu puter giling dari Borneo. Satu ilmu yang membuat seseorang tidak bisa meninggalkan tanah Kalimantan atau pulang kembali ke kampungnya apabila telah berbuat kesalahan terutama dalam hubungan cinta.

Awas !!! Merantau Ke Kalimantan Tidak Bisa Pulang Kembali

Jika sebelumnya sudah kita bahas tentang alat vital yang bisa hilang saat berbuat salah, maka kali ini juga merupakan satu kisah nyata yang dialami oleh seorang teman. Sebut saja namanya Anto, seorang perantauan dari kota Malang.


Anto Dan Puter Giling Kalimantan

Pada tahun 1980 an, Anto adalah seorang pemuda gagah yang penuh gairah hidup. Selain sebagai seorang teknisi di perusahaan asing, Anto adalah seorang atlet tinju yang pernah merasakan medali perak PON. Sehingga memiliki postur tubuh yang atletis dan gagah.

Namun, kelebihannya itu tidak diimbangi dengan sikap mental yang baik apalagi ia banyak bergaull dengan karyawan ekspatriat dengan gaya hidup ala kebarat-baratan. Sehingga Anto pun terpengaruh dengan gaya hidup mereka lalu meninggalkan adat ketimuran yang penuh etika dan tata karma.

Selain akrab dengan minuman keras, kebiasaan gonta-ganti pasangan juga menjadi salah satu perilaku buruk yang dianutnya. Maklum, secara materi ia cukup. Pekerjaannya di perusahaan asing mendapatkan imbalan gaji yang lebih sehingga gaya hidupnya pun turut berubah.

Petualangan cintanya pun semakin menggila, dengan penghasilannya yang diatas rata-rata, ia bisa memilih wanita yang disukainya. Hampir wanita dari berbagai suku yang ada di kota Samarinda, tempatnya tinggal, pernah menjalin hubungan dengannya.

Namun, seperti peribahasa, “sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga.”  Begitu pula yang terjadi dengan petualangan cinta Anto.

Gadis Dayak
Gadis Dayak

Semenjak kenal dengan gadis cantik dari pedalaman Kalimantan, Anto memutuskan untuk tinggal serumah tanpa ikatan resmi atau kumpul kebo dengannya. Anto cukup paham dengan budaya dan pantangan saat menjalin hubungan dengan wanita pedalaman termasuk salah satunya adalah tidak pernah mengucapkan janji akan menikahinya.

Namun, meskipun  berusaha berhati-hati, kelepasan juga akhirnya sehingga terucap janji untuk menikahi pasangan samen lavennya itu.

Dasar buaya,setelah beberapa bulan bersama, Anto merasa bosan juga lalu berniat meninggalkan pasangannya tersebut. Jika ia mengutarakan dengan terus terang untuk memutuskan hubungan, resikonya cukup berbahaya, maka ia merencanakan untuk meninggalkan pasangannya dengan diam-diam.

Awas !!! Merantau Ke Kalimantan Tidak Bisa Pulang Kembali


Kebetulan, teman satu kampung mengajaknya pulang ke Malang karena akan menikah. Maka, Anto menggunakan alasan mengantarkan temannya tersebut untuk meninggalkan pasangannya. Tiket kapal laut sudah dipegang, maka berdua bersama teman satu kampungnya Anto menuju pelabuhan Semayang, Balikpapan menuju Surabaya.  

Tiba di pelabuhan Semayang, Balikpapan. Anto merasa lega karena selangkah lagi ia dapat menyelesaikan rencana untuk meninggalkan pasangannya. Namun, entah mengapa, ia terpisah dengan teman perjalanannya. Tapi ia tidak menjadi bingung karena ia memegang sendiri tiket kapal laut itu.

Sambil menghisap sebatang rokok, ia menunggu keberangkatan kapal yang akan mengantarnya ke pulau Jawa. Tapi, setelah menunggu hampir dua jam, kapal yang akan mengantarnya belum juga berangkat, maka ia bergegas bertanya kepada petugas pelabuhan sambil menunjukkan tiketnya.

Ternyata, kapalnya sudah berangkat satu jam yang lalu. Dan, itu kapal terakhir yang berangkat ke Surabaya pada hari itu.

Anto menjadi kebingungan sendiri. Padahal saat ia menunggu, banyak penumpang lainnya yang duduk bersamanya, namun, saat mereka berangkat, ia tidak mengetahuinya sama sekali. Sehingga rencananya gagal.

Tidak putus asa, sebulan berikutnya, Anto kembali ke pelabuhan Semayang dengan tiket kapal yang sudah dipesannya beberapa hari sebelumnya. Niatnya sama, mau meninggalkan pasangannya. Akan tetapi, kejadian ketinggalan kapal terulang lagi. Dan, Anto kembali gagal.

Dua kali gagal tidak menyurutkan langkah Anto untuk meninggalkan pasangan samen avennya itu. Kali ini, ia berencana naik pesawat terbang. Dan, ia sudah berada di bandara Sepinggan tepat satu jam sebelum keberangkatannya. Setelah check in, ia duduk di ruang tunggu keberangkatan bersama penumpang lainnya.

Tiba-tiba, ia tertidur dalam posisi duduk. Dan, bangun ketika pesawatnya sudah berangkat. Sambil menyumpah-nyumpah tidak karuan, Anto kembali pulang ke Samarinda.

Begitu seterusnya, setiap kali ia berusaha meninggalkan kekasih gelapnya itu, meskipun menggunakan berbagai moda transportasi bermacam-macam, usahanya selalu gagal dan ia pulang kembali ke pangkuan pasangannya lagi.

Itulah pengalaman dari Anto, seorang perantauan dari kota Malang, yang pernah merasakan bagaimana pengaruh ilmu puter giling dari Kalimantan.

Penutup

Demikian sekelumit kisah nyata dari seorang teman yang pernah merasakan misteri ilmu puter giling dari Kalimantan sehingga tidak bisa pulang kembali ke kampung halamannya.

Menurut pengamatan penulis, semua itu adalah buah dari perbuatannya sendiri. Dimana pun kita berada, memang sudah semestinya tidak mengobral janji apalagi janji untuk menikah dengan seseorang. Karena janji akan dibawa sampai mati maka janganlah berjanji apabila tidak mampu menepatinya.



Alat Vital Hilang Di Kalimantan : Mitos Atau Fakta

Alat Vital Hilang Di Kalimantan : Mitos Atau Fakta – Ada satu mitos yang berkembang di pulau Kalimantan yaitu alat kemaluan pria akan hilang atau berpindah tempat apabila kita melakukan kesalahan terhadap gadis-gadis pedalaman. Terutama jika sudah menjalin kasih namun sang pria tidak mau lagi melanjutkan hubungannya.

Alat Vital Hilang Di Kalimantan : Mitos Atau Fakta

Cukup menyeramkan.

Saat mendengar cerita ini, sedikit ataupun banyak berpengaruh terhadap mereka yang mendengarnya, termasuk saya sendiri. Sehingga ketika merantau ke Kalimantan, kita akan berhati-hati dalam menjaga pergaulan dengan wanita pedalaman yang terkenal cantik dan berkulit kuning.

Berbeda dengan perantau asal kota Malang terutama yang memiliki jiwa petualang. Kisah-kisah seram seperti itu tidak membuatnya gentar malahan membuat mereka ingin mencoba dan membuktikan kebenarannya. 

Alhasil, mereka pun merasakan akibatnya.

Ada yang tidak bisa pulang ke Jawa lagi, ada yang alat vitalnya tidak berfungsi lagi dan ada pula yang merasakan kehilangan barang kesayangannya tersebut seperti dalam kisah diatas. Barulah, mereka sadar dan menyesal karena berbuat ceroboh dan bersikap sombong di pulau yang penuh misteri ini.

Sehingga jika kita bertanya apakah kisah-kisah tersebut adalah sebuah mitos belaka atau memang sebuah fakta, maka silahkan buktikan sendiri kebenarannya. Tapi, saran saya, jangan coba-coba melakukannya.

Karena penulis bersama teman-teman telah membuktikan kebenaran cerita tersebut. Sebaiknya anda baca juga tentang :

Kisah-kisah tersebut memang pelakunya dibuat fiktif untuk menjaga kerahasiaannya namun jalan ceritanya memang benar-benar terjadi.

Berikut ini adalah beberapa kisah nyata yang pernah dialami oleh teman-teman penulis saat mereka merantau ke Kalimantan.

Tiksan Dan Alat Vitalnya

Tiksan adalah seorang perantau dari kota Malang, tepatnya dari desa Mendalanwangi, Wagir, yang terkenal dengan perkebunan durian Montongnya. Pekerjaannya sebagai seorang pemborong bangunan mengharuskannya keluar masuk pedalaman Kalimantan.


Berbeda dengan Brodin dkk dalam cerita “Kisah Cinta Dalam Seikat Indomie”, Tiksan adalah sosok perantau yang tidak macam-macam. Niatnya merantau hanya untuk bekerja saja, tidak yang lain. Ia adalah seorang penganut agama Budha yang taat.

Namun, meskipun Tiksan tidak berbuat macam-macam dan selalu membatasi hubungannya dengan wanita, tapi malah membuat banyak wanita pedalaman yang penasaran akan sikapnya kemudian tertarik lalu menaruh hati kepadanya. Tapi Tiksan tidak menanggapinya.

Alat Vital Hilang Di Kalimantan : Mitos Atau Fakta
Ilustrasi
Sang gadis pedalaman, sebut saja namanya Omay, semakin penasaran. Di kampungnya, ia adalah bunga desa yang terkenal akan kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Sudah banyak pria yang jatuh hati dan berusaha mendapatkannya, namun ia menolaknya.

Kali ini, ketika perasaannya kepada Tiksan tidak ditanggapi, ia merasa sakit hati lalu mengadukannya kepada orangtuanya. Ayah Omay, menyuruh anaknya mengajak Tiksan ke rumahnya. Maka dengan bujuk rayu dan berbagai alas an, Omay berhasil mengajak Tiksan ke rumahnya yang berada di tengah belantara hutan Kalimantan.

Sesampainya dirumah Omay, Ayah Omay menyatakan kepada Tiksan jika anaknya menyukainya dan mau jadi istrinya. Namun, karena Tiksan sudah memiliki calon istri di Jawa, maka dengan sehalus mungkin, ia menolaknya.

Ayah Omay marah, lalu berkata, “Coba lihat burungmu sekarang!!!

Tiksan kaget lalu dengan reflek ia meraba alat vital kesayangannya. Wajahnya menjadi pucat, jantungnya berdegup kencang ketika mendapati barang kesayangannya tersebut tidak ada ditempatnya.

Lihat itu!!!” kata ayah Omay.

Tiksan mengarahkan pandangannya sesuai petunjuk orangtua itu. Kekagetanya semakin jadi, alat vitalnya berada diatas pintu, tergantung seolah sebuah hiasan. Tiksan terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Namun, kesadarannya perlahan timbul yang menuntunnya pada ajaran-ajaran yang pernah didengarnya, maka ia menetapkan hati dan fikirannya lalu mengarahkan pada sang Maha Pencipta, memohon bantuan dan pertolongannya.

Semua itu hanyalah semu..” Batinnya. Keyakinannya semakin lama semakin bertambah kuat lalu secara perlahan dirabanya lagi alat vitalnya.

Masih ada.” Gumamnya. Dan apa yang dilihatnya diatas pintu, hilang tak berbekas.

Ayah Omay menyadari kesalahannya lalu minta maaf. Perbuatannya tersebut hanya untuk menuruti kemauan anak gadisnya saja dan ternyata Tiksan memang tidak bersalah dan bukan jodoh anaknya. Maka, ayah Omay mengijinkan Tiksan pulang.

Itulah pengalaman menarik dari Tiksan, pemborong yang berasal dari desa Mendalanwangi, Wagir, Kabupaten Malang.

Penutup

Apa yang terjadi pada Tiksan menunjukkan bahwa hanya orang-orang bersalah yang akan menerima akibat perbuatannya seperti disebutkan diawal. Sedangkan orang yang benar dan memiliki keyakinan kuat seperti Tiksan akan selamat.

Pada umumnya, setiap daerah di belahan dunia memiliki tradisi dan keunikan masing-masing terutama dalam menjaga keluarga atau keturunannya dari gangguan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sehingga para orangtua menggunakan berbagai cara agar keluarganya tidak diganggu orang lain.

Semoga bermanfaat..


3 Hal Yang Menyebabkan Gagalnya Perjuangan Melawan Belanda

3 Hal Yang Menyebabkan Gagalnya Perjuangan Melawan Belanda 

Politik Adu Domba Dengan Iming-iming Harta, Tahta dan Wanita

Masa penjajahan Belanda di Indonesia sudah berakar selama 350 tahun lamanya, suatu masa penjajahan yang panjang. Apakah rakyat Indonesia pada waktu itu tidak melakukan perlawanan atau usaha untuk memerdekan diri?

Rakyat Indonesia baik dalam skala kecil maupun besar sudah melakukan berbagai usaha untuk melawan dan mengusir penjajah namun usaha tersebut selalu kandas karena politik adu domba yang diterapkan Belanda. Bangsa kita dengan mudah di adu dengan saudaranya sendiri,  dengan bangsanya sendiri dan dengan negaranya sendiri demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.

gambar perjuangan melawan belanda

Ada 3 hal yang menjadi iming-iming imbalan Belanda kepada bangsa kita agar memerangi, memusuhi dan menyingkirkan saudaranya sendiri yaitu harta, tahta dan wanita. Tiga hal ini memang menjadi kelemahan setiap manusia.

Berikut ini adalah kisah-kisah perlawanan rakyat Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Timur yang merupakan riak-riak kecil dalam gelombang melawan penjajahan Belanda dan berakhir dengan kegagalan akibat politik adu domba disertai iming-iming imbalan harta, tahta dan wanita.

1.    Untung Suropati

Untung Suropati adalah seorang Adipati Pasuruan pada masa kerajaan Mataram dibawah pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang gigih dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Awalnya, Untung Suropati adalah seorang budak, karena jatuh cinta kepada wanita yang bernama Suzana seorang nonik Belanda, ia menjadi buronan Belanda. Setelah melewati lika-liku perjalanan hidupnya, Untung Suropati memutuskan untuk melawan Belanda dan karena jasa-jasanya, akhirnya ia diangkat menjadi Adipati Pasuruan.

Mitos yang jarang diketahui orang adalah Untung Suropati memiliki kesaktian tidak mempan atau kebal terhadap segala macam senjata selama kakinya menginjak tanah atau bumi. kesaktiannya ini yang membuatnya susah ditangkap dan dibunuh oleh Belanda.

Namun dengan kelicikan politik adu domba serta iming-iming harta, tahta dan wanita, Belanda menggunakan bangsa kita sendiri untuk membocorkan rahasia kelemahan kesaktian Untung Suropati, Akhirnya Untung Suropati gugur dalam satu pertempuran.

2.    Sawung Galing

Sawung Galing adalah nama yang popular bagi masyarakat Surabaya karena Sawung Galing adalah Adipati Surabaya yang dengan berani melawan penjajahan Belanda.

Belanda menggunakan saudaranya sendiri yaitu Sawung Rana dan Sawung Sari, saudara satu bapak, untuk menyingkirkan Sawung Galing. Dengan iming-iming imbalan tahta Adipati Surabaya, apabila mereka berdua mampu menyingkirkan Sawung Galing.

Namun berbagai usaha pembunuhan terhadap Sawung Galing baik menggunakan cara halus seperti racun maupun cara kasar selalu dapat digagalkan. Sawung Galing meninggal bukan karena usaha pembunuhan namun karena sakit.

Baca Selengkapnya : Kisah Sawung Galing

3.    Sarip Tambak Oso

Sarip Tambak Oso adalah salah satu pejuang yang melawan Belanda di daerah Sidoarjo. Belanda mengantisipasi perlawanan Sarip sebelum berkembang menjadi besar dengan mengadu domba dengan Pamannya sendiri.

Sarip Tambak Oso memiliki kesaktian yang berada pada ibunya. Selama ibunya masih hidup maka Sarip tidak bisa mati. Jika Sarip mati, Ibunya akan memanggil namanya lalu Sarip akan hidup lagi.

Paman Sarip yang mengetahui rahasia tersebut membocorkannya kepada Belanda dengan imbalan harta, sehingga Sarip dapat dibunuh setelah ibunya dibunuh lebih dahulu.

Baca Selengkapnya : Kisah Sarip Tambak Oso

4.    Sogol Pendekar Sumur Gemuling

Nama Sogol adalah nama yang terkenal di Jawa Timur, khususnya daerah Jember dan Lumajang. Sebagai seorang Pendekar yang memiliki berbagai ilmu kesaktian, Sogol berjuang sendiri melawan Belanda. Perlawanannya membuat gerah Belanda sehingga Belanda kembali menggunakan politik adu domba untuk menyingkirkannya.

Pertama, Belanda menggunakan jasa seorang dukun santet terkenal yang bernama Kyai Mukti dari daerah Pasirian untuk membunuh Sogol, namun usahanya gagal dan Kyai Mukti mati ditangan Sogol.

Belanda mencari cara lain, melalui saudara seperguruan Sogol yang diiming-imingi dengan harta dan kedudukan, akhirnya Sogol dapat disingkirkan.

5.    Jaka Sambang

Jaka Sambang adalah seorang Pendekar dari gunung Gangsir, Pasuruan. Perlawanannya terhadap Belanda terjadi saat pembangunan jembatan Porong dimana rakyat harus kerja paksa untuk mewujudkannya.

Diawali dengan kematian bapaknya, Lurah Bintoro, ditangan antek-antek Belanda yaitu Lurah bargowo dan carik Abilowo. Joko Sambang melawan Belanda terutama membalaskan kematian bapaknya. Akhirnya Jaka Sambang dapat membunuh Lurah Bargowo dan carik Abilowo yang menjadi musuh bebuyutannya.

6.    Pak Sakerah

Sakera adalah seorang tokoh pejuang legenda kelahiran Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Ia berjuang melawan penjajahan Belanda sekitar permulaan abad ke-19. Sakera adalah seorang jagoan daerah, yang melawan perintah diktator Belanda di perkebunan tebu di daerah Bangil.

Sakera, seperti juga jagoan-jagoan daerah lainya, menjadi korban politik adu domba yang diterapkan Belanda. Sakera ditangkap Belanda setelah dikhianati oleh salah satu temannya sendiri.

Sakera dimakamkan di wilayah Bekacak, Kelurahan Kolursari. Daerah paling selatan di Kota Bangil. Legenda jagoan berdarah Madura ini sangat populer di Jawa Timur.

Demikian rangkuman dari beberapa kisah perjuangan rakyat Jawa Timur yang merupakan korban politik adu domba atau dikenal dengan politik devide et impera, memecah belah dan menguasai, yang dilakukan penjajah Belanda.

Sekarang Bangsa Indonesia sudah merdeka namun bentuk-bentuk penjajahan baik secara ekonomi dan ideologis masih mencengkeram kita. Marilah kita belajar dari sejarah, masihkah kita mau di adu domba dengan saudara kita sendiri? Semoga tidak.

Sarip Tambak Oso : Kerikil Kecil Sejarah Bangsa Indonesia

Sarip Tambak Oso

Kerikil Kecil Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia

Kisah Sarip Tambak Oso adalah kisah yang sering dimainkan dalam kesenian Ludruk, kesenian khas Jawa Timuran. Sewaktu saya masih Sekolah Dasar, Ludruk menjadi salah satu hiburan bagi masyarakat, karena pada jaman itu televisi merupakan barang mewah dan hanya orang-orang kaya yang memilikinya. Dan, lakon Sarip Tambak Oso adalah lakon yang menjadi kesukaan saya.

Setiap orang Sidoarjo, Jawa Timur, pasti mengenal cerita Sarip karena cerita ini memang berasal dari sana. Tambak Oso adalah salah satu desa di Sidoarjo.

gambar sarip tambak oso

Baca Juga :

Kisah ini terjadi ketika Belanda dengan kompeninya masih menjajah ibu pertiwi, tidak ada catatan tahun sejarah peristiwa perlawanan Sarip Tambak Oso terhadap kompeni Belanda karena mungkin tokoh Sarip hanyalah “kerikil-kerikil kecil” sejarah bangsa Indonesia dalam melawan Belanda.

SARIP TAMBAK OSO adalah nama pemuda kampung yang tinggal di wetan (timur) sungai Sedati Sidoarjo. Dia dikenal sebagai seorang pendekar yang bertemperamen kasar tetapi sangat perhatian pada penderitaan orang-orang miskin yang menjadi korban pemungutan pajak oleh Belanda.

Sarip Tambak Oso memiliki ikatan batin yang kuat dengan ibunya, seorang janda tua yang miskin. Karena ketika masih kecil Sarip Tambak Oso memakan “lemah abang” (Tanah Merah) bersama ibunya. Lemah Abang tersebut adalah pemberian ayahnya, yang berkasiat,
Selama ibunya masih hidup, Sarip tidak akan pernah bisa mati meski dia terbunuh 1000x dalam sehari “.

Sarip  memiliki paman dari jalur ayahnya, dimana dia telah mengambil harta warisan berupa tambak peninggalan ayah Sarip untuk dimanfaatkan sendiri.

Suatu hari datang lurah Gedangan dan kompeni Belanda kerumah Sarip dengan maksud ingin menarik pajak tambak pada ibunya Sarip. Karena tambak yang dikelolah paman Sarip adalah atas nama Ayahnya Sarip.

Sarip ketika itu tidak ada dirumah sehingga tidak mengetahui peristiwa tersebut. Lurah Gedangan dibantu kompeni Belanda meminta paksa pajak tanah pada ibunya Sarip yang tidak mampu membayarnya. Ibunya Sarip dihajar, dipukul dan ditendang oleh lurah Gedangan dibantu oleh kompeni Belanda.

 Ibunya Sarip yang sudah tua rentah menangis dan merintih memanggil-manggil Sarip yang tidak ada di rumah waktu itu
Sariip reneoh leh..mbokmu dihajar londo le..Sarriiipp “ 

Sarip yang ketika itu tidak berada dirumah seolah mendengar rintihan ibunya dan dengan ilmu kesaktiannya segera kembali kerumahnya dan menemukan Ibunya sedang dianiaya oleh lurah Gedangan dan kompeni Belanda. Segera dicabutnya pisau yang selalu terselip dipinggang dan dibunuhnya lurah Gedangan dan sebagian kompeni Belanda,sisanya melarikan diri. Sejak saat itu Sarip Tambak Oso menjadi buronan kompeni Belanda.

Suatu hari Sarip mendatangi pamannya yang telah mengambil tanah tambak peninggalan orang tuanya, tetapi tidak diberikan oleh pamannya sehingga terjadi perkelahian antara Sarip dengan Pamannya. Karena merasa terdesak dan kalah, pamannya melarikan diri menuju kulon kali Sedati menemui salah satu pendekar yang bernama Paidi.

Paidi adalah pendekar kulon (Barat) kali Sedati yang mempunyai senjata andalan berupa Jagang karena ia berprofesi sebagai kusir delman. Paidi senang pada putri pamannya Sarip yang bernama Saropah sehingga ia mau membantu pamannya Sarip.

Paidi akhirnya pergi mendatangi Sarip dengan maksud untuk menuntut balas perlakuan Sarip pada pamannnya. Sarip dan Paidi akhirnya bertemu ditepi sungai Sedati, mereka akhirnya berkelahi dengan ilmu kesaktiannya. Sarip kalah dan terbunuh, jasadnya dibuang oleh Paidi ke sungai Sedati.

Ketika itu ibunya Sarip sedang mencuci pakaian di sungai Sedati, melihat air sungai berwarna merah darah maka ibunya Sarip mencari sumbernya dan betapa terkejutnya karena ternyata sumber warna merah sungai Sedati adalah warna darah dari darah anaknya dan seketika itu juga ibunya menjerit,

 ”Sariiip..tangio leh..durung wayahe awakmu mati..

Dan seketika itu juga Sarip bangkit dari kematiannya seperti orang bangun dari tidur. Oleh ibunya, Sarip diperintahkan untuk sementara waktu menyingkir dari kampungnya dan tinggal diujung kampung. Sarip pun mencari Paidi kembali dan bertarung dimana kali ini Paidi kalah dan terbunuh oleh Sarip.

Sebagai buronan Belanda, Sarip sering merampok rumah-rumah tuan tanah Belanda dan orang kaya yang menjadi antek-antek Belanda, dimana hasil rampokannya ia bagikan pada rakyat miskin yang ada didaerahnya. Belanda merasa kewalahan dengan sepak terjang Sarip yang semakin berani melawan Belanda.

Belanda pun menyewa pendekar-pendekar untuk melawan Sarip, tapi tidak ada yang bisa mengalahkannya karena setiap Sarip mati pasti dia akan hidup kembali dan berulang-ulang terjadi. Belanda pun mencar tahu apa gerangan yang menjadi rahasia kehebatan Sarip sehingga bisa hidup berulang-ulang setiap dia mati.

Akhirnya Belanda dapat mengetahui rahasia kelemahan Sarip dari pamannya yang merupakan saudara seperguruan ayahnya Sarip bahwa letak kesaktiannya Sarip ada di ibunya. Belanda akhirnya menangkap ibunya Sarip dan menembaknya. Sarip pun terdesak dan akhirnya tertangkap oleh Belanda.

Oleh Belanda Sarip dijatuhi hukuman mati dengan dikubur hidup-hidup dalam sumur dan ditutupi batu dan tanah oleh Belanda. Begitulah kisah Sarip Tambak Oso seorang pemuda pendekar Sidoarjo yang gugur melawan Belanda.
Politik Devide Et Impera atau politik Adu Domba pada masa penjajahan sudah diterapkan Belanda untuk meredam perlawanan Rakyat Indonesia. Sekarang bangsa Indonesia sudah merdeka, masih kah kita mau di adu domba? 

Atikel Lainnya :

Kisah Sawunggaling Mencari Cinta

Kisah Sawunggaling Mencari Cinta

Nama Sawunggaling sangat terkenal di Surabaya. Ada sasana tinju yang menghasilkan banyak petinju professional, salah satunya adalah Joko Arter, bernama sasana Sawunggaling. Kemudian ada sebuah hotel terkenal di Surabaya yang bernama Sawunggaling Inn,  nama ini juga menginspirasi pendiri SAWOONG dengan mengutip bagian depan nama "Sawunggaling" sebagai merk cinderamata. Bahkan nama itu melekat pada sosok musisi terkenal yaitu Sawung Jabo.

Tapi apa dan siapa sebenarnya Sawunggaling? Hampir semua orang pernah mendengar nama ini, namun pasti tidak banyak yang tahu siapa sebenarnya jati diri Sawunggaling, khususnya generasi muda.

gambar sawunggaling

Sawunggaling adalah seorang adipati Surabaya yang menentang penjajahan Belanda. Nama Sawunggaling telah menjelma menjadi legenda. Sosoknya ditempatkan antara mitos dan fakta. Makamnya pun ada dua, di Lidah Wetan III dan Wiyung.versi ceritanya macam-macam, namun ada garis merah tentang asal usulnya.

Baca Juga : 

Cinta Kedua Adipati Jayengrana

Cerita ini dimulai dari Kadipaten Surabaya yang saat ini berada di kawasan Kramat Gantung. Saat itu yang menjadi Adipati adalah Jayengrana. Adipati Jayengrana sudah beristri dan mempunyai anak, namun sang adipati yang gemar berburu masih terpikat oleh kecantikan dan kemolekan tubuh gadis cantik.

Pada suatu hari, Adipati Jayengrono berburu ke arah selatan menyusuri hutan hingga ke hutan Wiyung. Kawasan yang sekarang penuh perumahan saat itu adalah hutan terjal. Di tengah hutan, Sang adipati bertemu gadis cantik bernama Dewi Sangkrah, anak seorang pertapa yang mengasingkan diri.

Adipati Jayengrono terpikat dan jatuh hati kepada Dewi Sangkrah sehingga terjadilah perkawinan terselubung diantaranya. Perkawinan itu kemudian membuahkan seorang bayi laki-laki yang kelak diberi nama Bagus Ahmad yang bergalar raden. Kelak namanya menjadi Raden Bagus Ahmad. saat remaja julukannya adalah Jaka Berek.

Jaka Berek Mencari Cinta

Jaka Berek baru saja pulang dari bermain dengan teman-temannya. Ia marah, penasaran bukan kepalang karena teman-temannya selalu mengejek bahwa ia tak punya ayah sah alias anak haram.

Sesampai di rumah, Jaka Baerek segera menjumpai ibunya yang saat itu sedang berkumpul dengan kakek dan neneknya. Jaka Berek menanyakan siapa sebenarnya ayah kandungnya bukan kakeknya yang selama ini dianggap sebagai ayahnya.

Hati Dewi sangkrah berdebar, Ia sudah menduga hal ini akan terjadi.Tak bisa tidak dia harus menjawabnya dengan gamblang.
Anakku Jaka Berek, karena kau telah dewasa, sudah sepatutnya kau bertanya tentang ayahmu. Ketahuilah anakku, ayahmu adalah seorang adipati di Kadipaten Surabaya. Namanya Jayengrana. Bila ingin bertemu dengannya datanglah kesana.”
Setelah mendengar jawaban Ibunya, dengan bekal seadanya, Jaka Berek berangkat menuju Kadipaten Surabaya untuk menjumpai ayahnya. Namun ketika hendak memasuki pintu gapura kadipaten,Jaka Berek dicegat oleh seorang prajurit yang sedang berjaga.

Prajurit itu melarang Jaka Berek memasuki kadipaten, Jaka Berek bersikukuh untuk masuk sehingga terjadi perkelahian. Untunglah perkelahian itu diketahui oleh dua orang putera Adipati Jayengrana yang bernama Sawungsari dan Sawungrana.oleh mereka perkelahian itu dilerai.

Namun, kedua putera Adipati itu juga melarang Jaka Berek menemui Adipati sehingga terjadi perselisihan yang berujung perkelahian. Jaka Berek dikeroyok oleh kedua anak Adipati. Belum lama perkelahian terjadi, Adipati Jayengrana keluar dan melihatnya dan iapun segera menghampiri.

”Hei..hentikan perkelahian ini!”teriaknya.Adipati menanyakan hal ihwal perkelahian, kedua puteranyapun menjelaskan secara terperinci.

”Kamu yang bernama Jaka Berek yang mau menemuiku, sekarang katakan apa keperluanmu?”

”Hamba hanya ingin mencari ayah hamba yang menjadi adipati di sini yang bernama Adipati Jayengrana.kalau memang tuan orangnya,tentu tuanlah ayah hamba.”

”Nanti dulu. Siapa nama ibumu dan apa buktinya kalau kau memang anakku?”

”Hamba adalah putera dari Biyung Dewi Sangkrah. Sebagai buktinya,ibu memberi hamba sebuah selendang Cinde Puspita ini.”Jaka Berek mengeluarkan selendang dari bungkusan yang dibawanya.

Ternyata benar selendang itu adalah selendang Cinde Puspita yang dulu oleh Adipati Jayengrana diberikan pada Dewi Sangkrah yang dicintainya.

”Kalau begitu kau memang anakku” Adipati memeluk Jaka Berek dan memperkenalkan Jaka pada saudaranya, Sawungrana dan Sawungsari.

Jaka Berek pun tinggal di kadipaten dan berganti nama menjadi Sawunggaling.

Sayembara Umbul-umbul Tunggul Yuda

Suatu hari Kadipaten Surabaya kedatangan kompeni belanda yang dipimpin oleh Kapten Knol yang membawa surat dari Jenderal De Boor yang isinya mengatakan bahwa kedudukan adipati di Surabaya akan dicabut karena Adipati Jayengrana tak mau bekerjasama dengan kompeni belanda.

Tetapi pada saat itu,ada pengumuman bahwa di alun-alun Kartasura akan diadakan sayembara sodoran (perang tanding prajurit berkuda dengan bersenjata tombak) dengan memanah umbul-umbul yang bernama umbul-umbul Yunggul Yuda.

Adipati Jayengrana yang sudah dicabut kedudukannya itupun menyuruh kedua anaknya agar giat berlatih untuk mengikuti sayembara itu. Pemenang dari sayembara itu akan diangkat menjadi adipati di Surabaya.

Pada hari sayembara diadakan, tanpa memberitahu Sawunggaling, Jayengrana dan kedua puteranya pergi ke Kartasura.dan tanpa setahu merekapun Sawunggaling juga pergi ke Kartasura. Sebelum berangkat Sawunggaling pulang ke desa meminta do’a restu dari ibu, kakek dan neneknya.

Sayembara memanah umbul-umbul itu ternyata hanya diikuti oleh Sawungrana dan Sawungsari, tetapi keduanya gagal tak bisa menjatuhkan umbul-umbul Tunggul Yuda yang dipasang di Menara Galah. Karena tak ada pemenangnya, Sosra Adiningrat yang bertindak sebagai panitia pelaksana lomba, segera mengadakan pendaftaran lagi.

Pada saat itu ada seorang pemuda yang ikut mendaftar dan ternyata dialah Sawunggaling dan diapulalah satu-satunya yang bisa menjatuhkan umbul-umbul Tunggul Yuda. Dengan kemenangan ini selain diangkat menjadi adipati, Sawunggalingpun mendapatkan puteri dari Amangkurat Agung di Kartasura yang bernama Nini Sekat Kedaton.

Keberhasilan sawunggaling itu membuat iri dua saudaranya. Sawungrana dan Sawungsari ingin mencelakakan Sawunggaling, pada saat pesta besar-besaran untuk merayakan pengangkatan Sawunggaling sebagai adipati di Surabaya, secara diam-diam mereka memasukkan bubuk racun ke dalam gelas minuman Sawunggaling.namun perbuatan itu diketahui oleh Adipati Cakraningrat dari Madura.

Ketika  minuman itu disodorkan pada Sawunggaling,Adipati Cakraningrat pura-pura menubruk Sawunggaling yang mengakibatkan terjatuhnya gelas berisi racun itu. Melihat itu, Sawungrana sangat marah ”Dinda Sawunggaling, lihatlah ulah adipati dari Madura itu, dia tidak menghormatimu karena telah menjatuhkan minuman. Ini penghinaan

Dengan cepat, disambarnya tangan Adipati Cakraningrat dan ditariknya keluar dari kadipaten. ”mengapa paman menghinaku di hadapan para tamu. Apakah paman ingin menantangku berkelahi?” tanya Sawunggaling.

Tenang anakku, ketahuilah bahwa minuman yang hendak kau minum itu sebenarnya telah diberi racun oleh Sawungrana, aku melihatnya.” Sawunggaling merasa menyesal telah tergesa-gesa menuduh Adipati Cakraningrat yang bukan-bukan.

Dan semua itu memang telah direncanakan oleh para kompeni belanda. Kedua kakakmu telah bergabung dengan para kompeni karena menginginkan kedudukan sebagai adipati di Surabaya,” jelas Adipati Cakraningrat.

Sejak saat itu Sawunggaling bertekad memerangi belanda, dia selalu menambah kekuatan laskarnya. Dalam suatu peperangan yang sengit Sawunggaling berhasil membunuh Jenderal De Boor.

Akhirnya, karena menderita sakit parah, Sawunggaling meninggal dunia di daerah Kupang dan di makamkan di Lidah Wetan- Surabaya.

Pesan Moral

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral sehingga kita harus menghormati dan menghargai nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Pada jaman dahulu sering terjadi pernikahan yang tidak resmi, khususnya dilakukan oleh para bangsawan, lalu sang wanita ditinggalkan sehingga anak hasil buah kasihnya setelah besar kebingungan mencari cinta bapaknya.

Atikel Lainnya :

3 x Hampir Tersambar Petir

Pada musim hujan ini, suara petir bersahutan di angkasa lebih sering terdengar mengawali tetesan-tetesan air yang turun dari langit. Suaranya yang menggelegar diiringi kilat cahaya lalu muncul sosok  petir yang menyambar ke arah yang dikehendakinya, menggetarkan hati bagi siapapun yang mendengar dan melihatnya.



gambar petir

Petir itu nyata dan hidup.

Melihat dan mendengar suara petir mengingatkan saya pada beberapa tahun yang lalu saat mengalami peristiwa tiga kali hampir tersambar petir.

Peristiwa Pertama

Saat itu saya masih seorang pemuda berumur dua puluh tiga tahun, dan pada masa itu, saya lagi aktif dan rajin menjalankan satu olahraga pernafasan yang bernama ORHIBA atau Olahraga Hidup Baru yang saya pelajari dari seorang guru waktu merantau ke Balikpapan.

ORHIBA adalah salah satu olahraga kesehatan yang ditemukan beberapa puluh tahun yang lalu oleh seorang pendeta dari Manado yang merantau ke Jawa lalu bermukim di Banyuwangi tepatnya di desa Galekan. 
Pada masanya ORHIBA sempat mengalami kejayaan dan menjadi salah satu oleharga resmi yang harus dijalankan oleh anggota Kepolisian Republik Indonesia. Saat itu masih dalam pemerintahan Presiden Soekarno dan yang menjadi Kapolri adalah bapak Hoegeng.

Ketika meletus peristiwa pada tahun 1965, karena kedekatan sang guru besar ORHIBA dengan Bung Karno dan karena perbedaan agama serta ideologi maka sedikit banyak disangkut-pautkan dengan peristiwa itu, sehingga dengan perlahan kebesaran ORHIBA memudar.

Maka di jaman sekarang ini sangat susah mencari tempat atau orang yang masih mengenal atau menjalankan ORHIBA kecuali di Bali yang masih banyak orang yang menjalankan dan mewariskannya secara turun temurun.

Setiap pagi, siang dan sore hari, saya rutin menjalankan Olahraga ini tanpa ketinggalan sehari pun sehingga saat itu badan saya sehat dan bugar selalu. Seiring dengan berjalannya usia, saya mencoba untuk memahami lebih dalam filosofi yang terkandung dalam olahraga ini.

ORHIBA bertujuan untuk menghidupkan kembali sel-sel tubuh yang rusak selama kita hidup lalu mengembalikan seperti fungsinya semula sehingga badan kembali sehat. Dalam setiap gerakan ORHIBA diiringi dengan tarikan dan hembusan nafas  disertai dengan niat “aku hidup” sehingga tertanam dalam jiwa keyakinan akan hidup sehat atau hidup baru yang penuh kesehatan.

Suatu hari saya bertanya kepada guru yang mengajarkan ORHIBA.

Saya  : “Bagaimana jika saya ingin menyatu dengan alam semesta?”
Guru  : “Manusia adalah mikro kosmos dan alam semesta adalah makro kosmos, jika kamu mau merasakan menyatu dengan alam semesta, cobalah untuk berlatih ORHIBA saat turun hujan di lapangan atau alam terbuka.”

Karena mau merasakan bagaimana menyatu dengan alam maka saya melaksanakan perintah guru saya tersebut. Saat hujan deras, saya berlatih ORHIBA ditengah lapangan sepak bola. Ketika semakin tenggelam dalam konsentrasi melakukan gerakan demi gerakan diiringi dengan niat “aku hidup”, tiba-tiba petir menyambar di empat penjuru tepat satu meter di sekeliling tubuh saya.

Tubuh saya bergetar, seolah seluruh otot-otot, daging dan tulang dalam tubuh bergetar  sehingga saya terduduk lemas tak berdaya.   Kurang lebih setengah jam lamanya dan hujan masih deras, setelah mengumpulkan tenaga, saya bergegas pulang sambil merenungkan kejadian ini.

Peristiwa Kedua

Setelah kejadian itu, setahun kemudian saya pindah kerja ke Jakarta dan masih rutin menjalankan olahraga ORHIBA.

Suatu hari ketika jam makan siang, turun hujan gerimis. Selesai makan di sebuah warteg , saya nekat berjalan kembali ke kantor. Saat menyeberang jalan di sebuah perempatan jalan dan hampir mencapai trotoar jalan yang ada ditengah, tiba-tiba petir menyambar tepat satu meter disamping kiri saya. Reflek saya melompat menghindar, namun tubuh saya lemas tak bertenaga sehingga saya duduk di trotoar sampai beberapa saat lamanya.

gambar petir2

Orang-orang yang melihat kejadian itu, segera menghampiri saya untuk menanyakan keadaan saya. Ketika melihat saya masih sehat, mereka menggeleng-gelengkan kepala penuh keheranan.Untuk menghindari kerumunan orang lebih banyak lagi, saya bergegas kembali ke kantor dengan membawa banyak pertanyaan.

Peristiwa Ketiga

Beberapa tahun kemudian, saya dipindahkan bekerja kembali di Balikpapan. Suatu hari saya bertemu dengan seorang gelandangan yang ternyata adalah seorang musafir atau orang yang sedang menjalankan laku prihatin. Saat itu gelandangan itu sedang mangais-ngais sampah mencari makanan sisa. Terketuk hati saya kemudian saya mendatanginya sambil memberikan nasi bungkus dan minuman kepadanya lalu mengajaknya berteduh di bawah sebuah pohon.

Setelah berkenalan, ternyata musafir tersebut berasal dari kota Surabaya, anak seorang Kyai terkenal yang sedang menjalankan laku hingga sampai ke Balikpapan. Sebelum berpisah, sang musafir memberikan satu amalan yang katanya dalan bahasa Suryani atau bahasa Malaikat yaitu “yaa Kayu” yang artinya hidup.

Karena merasa penasaran, suatu malam saya duduk di halaman rumah sehingga hanya beratapkan langit yang cerah lalu mencoba mengamalkan amalan tersebut.

Yaa Kayu ... Yaa Kayu ... Yaa kayu ...”  Terus menerus saya lafalkan kalimat itu.

Tiba-tiba langit yang cerah berubah menjadi gelap diselimuti awan lalu hujan gerimis pun turun. Berbarengan dengan turunnya air hujan, serangkaian kilat sambar-menyambar menghampiri tempat dimana saya duduk. 

Saya duduk terpaku melihat pemandangan ini, nyali saya mengerut kecil sekali. Dan saat rangkaian petir itu mendatangi, saya hanya bisa duduk pasrah sambil memejamkan mata. Terdengar suara menggelegar di sekeliling saya, setelah itu sunyi dan langit perlahan kembali cerah. Setelah menunggu beberapa saat barulah saya membuka mata lalu bergegas masuk ke dalam rumah, tidur dengan badan menggigil ketakutan.

Kesimpulan

Dari beberapa pengalaman saya berhubungan dengan petir, timbul satu pertanyaan besar dalam diri saya. Apa hubungannya petir dengan kalimat “hidup” dalam bahasa apa pun?

Melihat berita tentang banyaknya orang yang tewas tersambar petir, sempat terbersit dalam hati saya, apakah petir adalah kepanjangan tangan dari malaikat maut atau merupakan lidah api Bethara Kala yang mencari mangsanya?

Ternyata menurut pendapat saya pribadi, petir adalah hidup yang menjadi utusan Tuhan untuk menghidupi alam semesta seisinya. Bayangkan jika tidak ada petir maka tidak akan turun hujan, dan ternyata petir menghidupkan mikro organisme di dalam tanah sehingga tanah menjadi subur.

Wallahu a’lam.